Laboratorium Hepatika, Bisa Produksi 10 Ribu Alat Rapid Test Antigen Sehari

Para teknisi Laboratorium Hepatika saat memproduksi alat rapid test antigen, Jumat, 26 Februaeri 2021.(Suara NTB/ron)

Laboratorium Hepatika Bumi Gora Mataram berhasil membuat alat rapid test antigen. Riset untuk menemukan formula membuat alat rapid test antigen tidak mudah. Saat ini Laboratorium Hepatika jadi salah satu lembaga di Indonesia selain Universitas Padjadjaran yang berhasil melakukan riset dan membuat alat rapid test antigen.

Tiga orang teknisi laboratorium Hepatika menggunakan jas laboratorium tampak sibuk di dalam ruang laboratorium berpendingin. Seorang teknisi memotong kertas khusus menggunakan pemotong khusus. Kemudian teknisi lainnya menandai kertas itu, membawanya dalam papan untuk dikeringkan selama satu jam. Setelah kering, kertas itu kembali dipotong menjadi strip-strip, lalu dimasukkan dalam kaset. Berikutnya dilakukan pengemasan ke dalam wadah plastik.

Iklan

Direktur PT. Hepatika Mataram, Prof. Dr. dr. Mulyanto ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 26 Februari 2021 menyampaikan pihaknya bisa memproduksi alat rapid antigen itu sebanyak 10 ribu dalam satu hari.  ‘’Untuk alatnya, satu hari bisa10 ribu dihasilkan, yang lama membungkusnya, karena manual, tidak pakai alat,” ujarnya.

Menurutnya, di Indonesia riset untuk pembuatan alat rapid test antigen ini belum banyak dilakukan oleh lembaga lain, hanya dilakukan Universitas Padjajaran. Diakuinya memang ada beberapa perusahaan di Indonesia yang mengemas bahan dari luar negeri. “Kalau di Indonesia, banyak yang bahannya dari China dan Korea. Ada juga yang dibuat di Indonesia tapi assembling atau bahan dari luar dikemas di Indonesia,” ujarnya.

Mulyanto menyampaikan, menemukan formulanya itu yang sulit. Sedangkan untuk perakitan atau pembuatannya relatif mudah. Apalagi Laboratorium Hepatika sudah memiliki pengalaman membuat alat tes. Risetnya sudah dimulai sejak satu bulan yang lalu, setelah Gubernur NTB menantang Laboratorium Hepatika membuat inovasi setelah berhasil membuat alat rapid test antibody sebelumnya.

‘’Pembuatan alatnya sederhana, tetapi mencari bagaimana formula, caranya, dan waktunya, itu yang sulit, sehingga tidak semua bisa,’’ ungkapnya.

Ia mengakui, laboratorium atau pabrik Hepatika relatif tidak ada, terutama yang melakukan penelitian dan inovasi dari awal.  ‘’Kami ini dari awal, buat bahannya segala macam. Praktis di sini satu-satunya. Pak Gubernur bilang, NTB ini tidak hanya menghasilkan produk UMKM, ini produk sudah bersaing di internasional,’’ ujar Mulyanto.

Penelitian yang dilakukan Hepatika relatif cepat karena Hepatika sudah memiliki alatnya. Apalagi pada tahun 2016 Hepatika juga membuat tes antigen untuk virus flu burung. ‘’Ini kan mirip-mirip atau (sederhananya) saudaranya Covid-19. Kami tinggal hitung ulang, dicoba dan dites validasi,’’ katanya.

Ia menyampaikan, anggaran riset untuk membuat alat rapid test antigen ini berasal dari anggaran Hepatika sendiri. “Kami sisiahkan dari penjualan reagen. Selain untuk Covid, kami juga membuat untuk tes hepatitis B, hepatitis C, malaria, HIV, dan tes kehamilan. Ada keuntungan untuk kegiatan operasional,’’ jelasnya.

Diakuinya, Hepatika sebenarnya bukan lembaga profit. Lebih menjurus ke lembaga semi profit, karena keuntungannya dipakai untuk pengembangan produk lain.

Mulyanto menjelaskan, komponen utama dari alat ini adalah antibody terhadap virus Covid-19. Komponen itu dilekatkan di kertas. ‘’Ada sampel virusnya, virusnya akan menempel, antibody yang ditandai akan menempel dan kelihatan warna merah,’’ jelasnya.

Setelah prototipe jadi kemudian dikirim ke Rumah Sakit Universitas Mataram untuk tes validasinya. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan bersama Unram, produk rapid test antigen kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan produk komersial yang sudah ada di RS Unram.

H. Muhammad Rizki dari Universitas Mataram saat peluncuran alat rapid test antigen ini menyampaikan ketika prototipe produk rapid test antigen ini diserahkan ke Unram untuk validasi Peneliti dari Unram melakukan pemeriksaan 86 sampel.

‘’Sampel yang datang, baik positif maupun negatif, secara bersamaan kita lakukan pemeriksaan dari sampel tersebut. Hasil 86 sampel tersebut, hasil positif PCR ada 34 sampel, kemudian negatif 52 sampel,’’ tutur Rizki.

Sementara ketika dicek menggunakan prototipe alat rapid test antigen dari Hepatika, 33 sampel menunjukkan hasil positif dan 53 sampel menunjukkan hasil negatif. Pihaknya memperoleh sensitivitas 91,2 persen dan spesivitas 96,2 persen.

Pemprov NTB sendiri akan memesan sebanyak 50.000 alat rapid test antigen tersebut. Mulyanto menyampaikan, saat ini pihaknya tengah menghitung ulang biaya untuk satu alat rapid test antigen itu. Ia berusaha agar harga alat ini di bawah Rp100 ribu. Produksi massal akan dilakukan di Laboratorium Hepatika.

‘’Ini lagi dihitung, takutnya salah. Tapi kemungkinan besar di bawah Rp100 ribu. Kami usahakan paling rendah, Hepatika memang tidak mengutamakan profit,” ujarnya. (ron)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional