Labelisasi Rumah Warga Miskin, Lotim Ditegur Kemensos

Kegiatan labelisasi rumah warga yang masuk kategori miskin di Lotim beberapa waktu lalu. Kegiatan ini dihentikan sementara sambil menunggu petunjuk Kemensos. (Suara NTB/dok)

Selong (Suara NTB) – Kementerian Sosial (Kemensos) melayangkan surat peringatan (SP) kepada Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terkait aktivitas labelisasi rumah warga miskin. Kemensos melarang keras labelisasi rumah dengan istilah keluarga miskin.

“Pakai istilah keluarga pra sejahtera,” terang Koordinator Kabupaten Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Saprudin ditemui di Selong, Rabu, 4 Maret 2020.

Iklan

Diakuinya, kegiatan labelisasi yang sudah diawali di wilayah Kecamatan Sakra Barat dan Terara beberapa waktu lalu saat ini terpaksa dihentikan sementara.   Bunyi tulisan dalam plat yang disemprot menggunakan pilok ini katanya akan diganti dulu sesuai dengan petunjuk pemerintah pusat. Bahasa tulisan labelisasi katanya tidak boleh terlalu keras menyebut warga miskin. “Nanti kita lanjutkan setelah kita bicarakan lebih lanjut dengan Dinas Sosial,” paparnya.

Adapun jumlah rumah yang sudah dilabelisasi sampai saat ini katanya belum sampai satu persen dari 148 ribu rumah warga penerima bantuan. Soal anggaran seperti pengakuan Kepala Dinas Sosial H. Ahmat sebelumnya menjadi kendala lain melanjutkan kegiatan labelisasi. Hal ini dikarenakan tidak adanya item angaran dalam struktur APBD Kabupaten Lotim 2020. “Soal anggaran kan memang tidak ada dalam APBD Lotim,” sebut Saprudin menambahkan.

Sejauh ini, kegiatan labelisasi bisa dilakukan, karena menggunakan sistem gotong royong. Termasuk dari jajaran para pendamping PKH katanya ikut berswadaya melakukan labelisasi. “Yang mahal ini kan pembelian pilok-nya,” paparnya.

Pascalabelisasi dilakukan, diketahui sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) penerima bantuan PKH dan BPNT atau sekarang disebut dengan istilah Bantuan Sembako Murah ini ada sejumlah warga yang mengundurkan diri secara sukarela. Pengunduran KPM ini sebenarnya bukan karena alasan malu rumahnya dilabelisasi.  Akan tetapi murni karena kesadaran dan perubahan kondisi perekonian keluarga. (rus)