Kurikulum Berganti, Guru Tetap Jadi Penentu Kualitas Sekolah

Ilustrasi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Universitas Mataram (Unram)

Mataram (Suara NTB) – Sudah jadi hal yang lumrah pada saat ganti menteri ganti pula kebijakan. Kurikulum pendidikan di Tanah Air juga demikian, setiap ada pergantian menteri selalu diikuti dengan pergantian kurikulum.

Meski senantiasa gonta ganti kurikulum, keberadaan guru selalu jadi penentu. Berbagai hasil penelitian mengemukakan bahwa peran guru sangat vital, walaupun kurikulum selalu berganti.

“Peran guru adalah faktor penentu utama kualitas pendidikan. Beberapa ahli mengatakan 50-60 persen kualitas sekolah ditentukan kualitas guru. Apabila kualitas dan komitmen gurunya baik, maka hasil belajar siswanya juga baik,” kata Kepala Lembaga Pengkajian Mutu Pendidikan (LPMP) NTB, Mohammad Mustari, PhD., Selasa, 7 Juli 2020.

Sebagai perpanjangan tangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di daerah, LPMP menilai kurikulum tidak ada artinya tanpa keberadaan guru yang hebat.  “Kurikulum yang bukan dalam bentuk dokumen adalah guru,” urainya.

Sehebat apapun kurikulumnya, ujarnya, kalau kapasitas gurunya kurang, maka di kelas tidak terjadi perubahan apa-apa. Seorang guru, kata Mustari, sesuai dengan falsafah tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara, harus memiliki sikap momong, among, dan ngemong. Supaya para guru dapat mendidik siswanya dengan cara mengasuh dan memberi nilai nilai positif dalam kehidupan mereka.  “Jadi guru profesional dengan kriteria di atas wajib kita siapkan dengan baik,” kata Mustari.

Dalam mengasuh siswa, ujarnya, bukan dengan cara paksaan melainkan dengan memperhatikan, menuntun, atau mengarahkan agar siswa bebas mengembangkan diri supaya semua dapat merdeka batinnya, pikirannya, juga tenaganya. Karena tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia.

“Bagaimana guru menjadi profesional seperti yang diharapkan Ki Hajar Dewantara. Guru harus mempunyai kriteria meliputi kompetensi substansi, tanggungjawab sosial, kesejawatan,” papar Mustari.

Diakuinya, profesi seorang guru sangat strategis karena merekalah yang akan jadi penentu generasi bangsa. Oleh karenanya gambaran kualitas hidup generasi bangsa ke depan tergantung pula dari gurunya.

Untuk itu kepada para guru, Mustari berpesan agar para guru bisa menjadi inspirator bagi siswanya. Karena semua materi mulai dari yang mudah sampai yang tersulit sudah ada baik di buku maupun di internet. “Siswa tinggal mencari materi sendiri dengan menjelajah dunia maya. Jadi yang dibutuhkan ialah guru yang bisa menjadi inspirator bagi siswanya,” tambahnya. (dys)