Kunjungi RSUD NTB, Gubernur Tekankan Wisata Medis Perlu Jadi Basis

H. Zulkieflimansyah. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pengembangan bidan kesehatan di NTB disebut perlu mengedepankan basis medical tourism atau wisata medis. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, menekankan hal tersebut harus dimulai dari penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.

Medical tourism itu jadi prioritas di NTB untuk dikembangkan. Mumpung masih ada waktu (sebelum gelaran MotoGP), harus dimulai dari penyiapan SDM,’’ ujar gubernur yang akrab disapa Dr. Zul tersebut, Rabu, 1 Juli 2020 saat berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB.

Iklan

Menurut Dr. Zul, dengan banyaknya sekolah tinggi ilmu kesehatan di NTB dan posisi RSUD NTB sebagai rumah sakit pendidikan maka peningkatan SDM harus bisa didorong. Terutama meningkatkan kapasitas untuk bersaing di skala internasional.

“Jadi SDM yang ada bukan hanya mengerti ilmu kesehatan, tapi juga pandai berbahasa asing. Memahami maka pelayanan dengan semestinya, dan berkolaborasi,” ujar Dr. Zul. Beberapa upaya yang dapat dimulai antara lain melakukan studi banding serta menjalin kerjasama dengan perwakilan BUMN di NTB.

“Ada banyak sekali BUMN di NTB. Itu bisa kita push (dorong) semua untuk berkolaborasi meng-upgrade SDM kita. Kemarin ada juga yang mengajukan personal relation antara kita dengan Jepang,” sambungya.

Peningkatan SDM menurutnya dalah salah satu indikator penting untuk memajukan bidan kesehatan dan pendidikan. Diterangkan Dr. Zul, salah satu potensi yang bisa dikembangkan untuk mendorong pengembangan tersebut adalah mewujudkan industri alat kesehatan.

‘’Kita ada Fakultas Kedokteran dan rumah sakit (pendidikan). Kita punya banyak sekolah tinggi ilmu kesehatan, Akper dan lain sebagainya. Jadi klasternya sebenarnya sangat menarik. Oleh karena itu, tinggal keseriusan kita. Dokter-dokter kita harus sering studi banding sehingga seleranya beda,” jelas Dr. Zul.

Menanggapi hal tersebut Anggota Dewan Pengawas RSUD NTB, dr. Soesbandoro, menerangkan rumah sakit di NTB harus mampu mematangkan basis wisata medis. Khususnya untuk menjadi pusat rujukan dan layanan ketika MotoGP digelar di NTB.

‘’MotoGP itu memerlukan dukungan SDM untuk tenaga medis dan perawat yang luar biasa jumlah, dan kompetensinya harus memadai untuk kelas internasional,’’ ujarnya. Dengan pengembangan yang dilakukan salah satunya di RSUD di NTB, diharapkan dapat menyediakan trauma center yang dibutuhkan untuk mendukung hal tersebut.

‘’Mudah-mudahan ini bisa didukung sehingga jumlah kompetensi trauma center MotoGP dan pengembangan wisata medis (berjalan). Harapannya, memang RSUD NTB bisa menjadi center of excellence di provinsi atau di Indonesia Timur,’’ ujarnya.

Terpisah, Direktur RSUD NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri, menerangkan pengembangan SDM telah menjadi kebutuhan rumah sakit kedepan. Terutama untuk pemenuhan dokter spesialis di rumah sakit-rumah sakit yang ada.

Diterangkan Fikri, untuk pengembangan doker spesialis telah berjalan di RSUD NTB sebagai rumah sakit pendidikan dengan tahap mencapai 60 persen. Di mana dari segi progres juga dilihat dari kunjungan Konsil Kedokteran Indonesia (KK) dan kolegium bidang kesehatan lainnya.

“Kemarin ini sempat tertunda karena pandemi, tapi sudah kita lakukan vicon (video conference). Ikhtiar kita harapannya menunggu lisensi dari pusat agar program pengembangan dokter spesialis untuk obgyn (kandungan) dan bedah bisa dilakukan di sini,” ujar Fikri.

Ke depan, jumlah program dokter spesialis diharapkan dapat terus bertambah. Terutama untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di NTB sendiri. ‘’Sekarang kita ada 100 orang spesialis dengan disiplin ilmu sesuai tipe rumah sakit. Dengan itu, kita bisa menju (rumah sakit) tipe A dengan kemampuan dan SDM yang ada,’’ pungkasnya. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional