Kunjungan Moeldoko dan Gubernur Diharapkan Dongkrak Potensi di Lunyuk

Camat Lunyuk saat memberikan keterangan soal potensi Lunyuk kepada Moeldoko dan Gubernur NTB.

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kecamatan Lunyuk yang berada di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa memiliki potensi yang terbilang komplet. Mulai dari pertanian, peternakan, hingga kelautan. Namun dengan berbagai kendala, seluruh potensi ini diharapkan bisa dikelola dengan baik. Terhadap potensi tersebut, Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jend (Purn) Moeldoko dan rombongan bersama Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah telah berkunjung dan melihat langsung potensi di kecamatan setempat, Senin lalu.

Sebagaimana disampaikan Camat Lunyuk, Drs. Iwan Sofyan, Selasa, 7 Juli 2020, setelah peninjauan lapangan, KSP Moeldoko juga berdialog dengan petani padi dan jagung, peternak, serta nelayan lobster. Guna membicarakan terkait potensi serta kendala yang dihadapi. Sehingga ke depannya mendapatkan solusi untuk dapat dikelola dengan baik. Sehingga seluruh potensi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Iklan

Menurut Iwan Sofyan, rombongan datang melihat secara langsung tentang potensi jagung.  Dalam hal ini meninjau salah satu titik lokasi yang bisa mewakili lokasi lainnya. Selain itu juga melihat potensi padi dan perkebunan. Dalam kesempatan tersebut berbagai kendala disampaikan. Termasuk berharap adanya dukungan ke depannya dalam mengelola potensi yang ada.

Selanjutnya, potensi perikanan misalnya nelayan tangkap. Para nelayan mendapatkan ancaman gangguan pengeboman ikan. Hal ini sangat mengganggu. Kemudian yang terakhir terkait potensi lobster. Di mana seluruh desa yang ada didorong supaya tidak menjadi penonton dengan adanya potensi tersebut. Saat ini, kendala dari nelayan lobster adalah alat tangkap yang masih tradisional dan mudah rusak oleh ombak wilayah selatan. Diharapkan ke depan nelayan dapat diberdayakan dan difasilitasi alat tangkap yang modern. Pihaknya juga mendorong supaya adanya budidaya lobster. “Kami mendorong supaya seluruh potensi Lunyuk bisa dikelola dengan baik, dimanage dengan baik, tidak menjadi sumber konflik. Kemudian masyarakat betul-betul menjadi pelaku, menjadi berdaya. Kemudian meningkatkan nilai dari hasil yang ada. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan,” terangnya.

  Istana Putih Wisma Daerah Terbakar Peninggalan Sejarah Terancam

Dijelaskannya, setelah melihat potensi alam di Lunyuk, KSP Moeldoko ke depannya akan mendorong investasi dan mendorong peran dari kementerian-kementerian teknis terkait dengan potensi yang sudah disampaikan. “Alhamdulillah tadi malam waktu kami dipaggil ke hotel, beliau langsung menghubungi beberapa kementerian. Karena waktu setelah selesai beliau berbicara, kita dialog, kami sudah punya resume konsepnya ke depan. Kami menyerahkan dokumen usulan terhadap grand desain Lunyuk ke Pak Moeldoko, Pak Gubernur,” tukasnya.

Potensi Lobster

Salah satu potensi Sumbawa yang cukup menjanjikan adalah  lobster. Potensi lobster di kabupaten setempat terdapat di dua zona yakni wilayah Selatan dan Utara. Informasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) setempat, potensi penangkapan Benih Bening Lobster (BBL) di wilayah Selatan terdapat di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Lunyuk di Perairan Teluk Lunyuk. Kecamatan Labangka di Teluk Samara Labangka. Kecamatan Empang, Desa Jotang Beru, Dusun Tero di Teluk Brang Bako. Kecamatan Tarano Desa Mata, Sili Maci di Teluk Sili Maci. Wilayah ini termasuk Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 573. Sedangkan potensi BBL di wilayah Utara, semua desa yang termasuk dalam Teluk Saleh. Wilayah ini termasuk dalam WPP 713.

Kepala Dislutkan Kabupaten Sumbawa melalui Kabid Perikanan Tangkap, H. Burhanuddin, S.Pi membenarkan hal tersebut. Namun untuk besar potensi tidak diketahui secara pasti. “Berkaitan dengan potensi kan harus ahli yang berbicara,” ujarnya.

Diakuinya, sejauh ini belum ada ekspor dari Sumbawa terkait benih lobster ini. Karena belum adanya izin dari pemerintah. “Belum ada (ekspor red). Karena izin legalnya belum ada. Baru dimulai sekarang, karena peraturan ini kan baru Mei kemarin. Belum ada yang ngirim kecuali illegal kan mungkin,” terangnya.

  Bupati Sumbawa Sanksi Dua ASN Terindikasi Kampanye

Selama ini, jelasnya, petani menjual benih lobster  ke pengepul. Harga pasarannya lebih kurang Rp 30 ribu per ekor. Adapun perharinya, bibit lobster yang ditangkap kurang lebih 30 sampai 50 ekor. “Menjanjikan (bagi petani lobster red). Kenapa menjanjikan, karena satu hari bisa dia dapat uang kurang lebih Rp 1 juta kalau pas bagus.  Kalau 30 hari misalnya dia dapat Rp 30 juta. Pokoknya kemarin saya turun ke lapangan itu, Rp 1 juta satu hari. Itu yang dijual ke pengepul,” bebernya.

Saat ini, kata Burhanuddin, terdapat sekitar 26 perusahaan yang sudah mendapatkan izin dari Ditjen Perikanan Tangkap. Dari jumlah ini, yang sudah lengkap dokumen perizinan ekspor BBL baru satu di Sumbawa yaitu PT. Nusa Tenggara Budidaya. Sedangkan kuota BBL yang dikeluarkan oleh Ditjen Perikanan Tangkap, wilayah WPP 573 sekitar 12.125.000 ekor. Kemudian penangkapan BBL di WPP 713, sebanyak 11.587.500 ekor. “Untuk produksi belum. Cuma kita masih mendapatkan kuota saja,” ungkapnya.

Sementara ini, lanjutnya, jumlah petani lobster yang terdata di dinas kurang lebih sekitar 400-san orang. Jumlah ini belum final, dan kemungkinan akan bertambah. Dengan adanya izin, ke depannya banyak hal yang akan dilakukan dinas. Salah satunya membantu sarana prasarana bagi petani untuk menangkap BBL. Dengan alat tangap, memungkinkan akan menambah jumlah tangkapan yang dilakukan. Di sisi lain, sekarang perusahaan yang akan bermitra dengan nelayan. Sehingga akan membantu untuk sarana prasarana. “Kalau dinas sekarang belum. Kalau ada kekuerangan, dinas akan membantu juga nelayan. Karena ini legalnya baru dimulai sekarang. Investor punya izin dari Dirjen tangkap. Mereka sendiri akan melakukan identifikasi nelayan yang tangkap. Kemudian dia koordinasi dengan kabupaten untuk melegalkan mereka. Bahwa mereka sudah termasuk terdaftar dalam penangkapan lobster. (ind/arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here