Kucuran Uang Investor di NTB Tembus Rp13,5 Triliun

Kepala Dinas PMPTSP Provinsi NTB, L. Gita Ariyadi (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Provinsi NTB telah mencatat jumlah uang investor yang mengucur di NTB tahun 2018 ini mencapai Rp13,5 triliun. Mendekati target yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI sebesar Rp14 triliun di NTB.

Tinggal setengah miliar, target pusat ini akan ditutupi. Capaian Rp13,5 triliun lebih inipun, tercatat hanya tiga triwulan (Januari-September) tahun 2018 ini. Sehingga, Kepala Dinas PMPTSP Provinsi NTB, Drs. L. Gita Ariyadi, M.Si optimis target pusat yang dibebankan ke NTB di tahun ini akan terlampau.

Iklan

“Kita kan belum menghitung, triwulan IV 2018 ini. Saya berkeyakinan target pusat ini terlampaui,” kata L. Gita saat melakukan rapat koordinasi di kantornya, Kamis, 22 November 2018 kemarin.

Data capaian investasi tahun ini berdasarkan yang dipaparkan mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB ini terbagi Rp9,9 triliun lebih adalah penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan Rp3,5 miliar lebih adalah penanaman modal asing (PMA).

Sebarannya Rp1,43 triliun di Kota Mataram, Rp517,2 miliar di Lombok Utara, Rp1,43 triliun di Lombok Barat, Rp1,29 triliun di Lombok Tengah, Rp 385,3 miliar di Lombok Timur, Rp6,1 triliun di Sumbawa Barat, Rp2 triliun di Sumbawa, Rp76,7 miliar di Dompu, Rp64,1 miliar di Bima, dan Rp37,3 miliar di Kota Bima. Dari total nilai investasi yang telah masuk selama tahun 2018 ini, lanjut L. Gita, jumlah penambahan tenaga kerja mencapai 4.866 tenaga kerja, baik asing, maupun tenaga kerja dalam negeri.

Uang investor tersebut, mengucur untuk beberapa sektor. Pariwisata Rp2 triliun lebih, perhubungan/transportasi Rp774 miliar lebih, perdagangan Rp92 miliar lebih, pertanian Rp170,1 miliar lebih, perikanan Rp101,2 miliar lebih, kelistrikan Rp9,6 triliun, industri Rp191,8 miliar lebih dan jasa lainnya Rp537,7 miliar. Realisasi investasi didominasi dari negara gabungan Singapura, Perancis, Australia, dan Gabungan Korea Selatan.

“Kita masih cukup optimis, investasi ini akan tetap jalan, bahkan melebihi target. Kita lihat KEK Mandalika terus bergerak, Pelabuhan Gili Mas juga terus bergerak, termasuk juga rencana investasi smelter,” ujarnya.

Bagaimana keadaan terkini investasi pascagempa?, Komisaris ITDC ini menjelaskan, dunia investasi tidak dapat disamakan seperti sektor pariwisata. Dunia pariwisata menurutnya sangat sensitif, ketika terjadi gempa,  secara otomatis arus kunjungan wisatawan akan terhenti sementara.

Dengan investasi, justru para investor akan menambah nilai investasinya. Diantaranya untuk membangun/memperbaiki kembali fisik bangunan yang menjadi sasaran investasinya. Misalnya, keretakan hotel.

“Ketika gempa mengakibatkan keretakan bangunan, bukan lantas investasi berhenti. Bahkan ditambah nilai investasinya untuk perbaikan-perbaikan dan secepatnya beroperasi kembali. Saya belum menemukan kelesuan investasi itu,” demikian L. Gita. (bul)