Kuasa Hukum Yakin LNS Tak Gantung Diri, Ungkap Adanya Bukti CCTV dan Pesan WhatsApp

Pernyataan tim kuasa hukum Montani Para Liberi Wapala Fakultas Hukum Unram kepada Suara NTB, Kamis, 30 Juli 2020.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Misteri meninggalnya LNS (23) yang tergantung di rumah kekasihnya di Perumahan Royal Jalan Arofah, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram belum terungkap. Namun, keping demi keping petunjuk mengungkap kasus itu perlahan mencuat ke permukaan.

Salah satunya, yaitu rekaman CCTV tetangga yang menunjukkan adanya kunjungan sejumlah orang di rentang waktu korban diperkirakan meninggal dunia.

Iklan

“Ada empat-lima orang datang ke TKP sehari sebelum korban ditemukan meninggal dunia,” ungkap Tim Kuasa Hukum Montani Para Liberi Wapala Fakultas Hukum Unram Abdul Hadi Mukhlis ditemui Suara NTB, Kamis, 30 Juli 2020.

Tim kuasa hukum tersebut berkolaborasi dengan Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Unram dalam mendampingi keluarga korban. Mereka mendapatkan petunjuk dari rekaman CCTV milik tetangga yang berada tepat di depan rumah TKP.

“Ada satu orang yang selang dua menit datang langsung keluar dari rumah. Tersisa empat orang. Setelah itu kami belum dapat informasi bagaimana mereka pulang,” terangnya.

Rekaman CCTV itu,diharapkan menjadi rujukan kepolisian untuk menguak misteri di balik kematian korban.

Dalam keterangan Polresta Mataram sebelumnya, korban diperkirakan meninggal dunia lebih dari 24 jam sebelum ditemukan. “Sementara kan ini orang-orang itu datang hari Jumat,” terang Hadi Mukhlis.

Sejumlah orang yang datang itu, sambung Hadi, merupakan kawan dekat korban. Saking dekatnya, mereka membuat grup pesan instan WhatsApp khusus untuk komunikasi diantara mereka. “Cuma ada satu orang dari yang datang itu yang bukan di grup itu,” sambung dia.

Pihaknya juga meminta kepolisian lebih jeli menelusuri kesaksian saksi kekasih korban RY (22). Mengenai alibi yang dibangun RY bahwa pada rentang waktu korban diperkirakan meninggal, RY sedang berada di Denpasar, Bali untuk keperluan mengantar adik mendaftar tes kuliah.

“Kita temukan bahwa saksi tersebut baru check-in hotel pada Jumat sore. Memang dari keterangan saksi yang lain menyebutkan bahwa pada hari Kamis pacarnya ini ikut rapid-test Covid-19 untuk keperluan bepergian itu,” paparnya.

Keluhan Sakit Perut dan Bercak Darah

Korban LNS (23) baru ditemukan pada Sabtu (25/7) dalam keadaan meninggal dunia. Tergantung di ventilasi rumah kekasihnya di Perumahan Royal Jalan Arofah, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram.

Korban terakhir kali berkomunikasi dengan kawannya pada Kamis sore, 23 Juli 2020 melalui pesan instan WhatsApp. Pada intinya, pesan itu berisi kalimat korban yang mengeluhkan kondisi kesehatannya. Komunikasi itu intensif sejak pagi sampai sore. Status aktif WhatsApp korban terakhir terlihat pada Kamis malam.

“Intinya dia bilang, ‘kok saya ditinggal sendiri padahal dalam kondisi mulas’. Artinya dia sebelumnya sedang bersama dengan seseorang. Tapi setelah itu ditinggal pergi dalam keadaan sakit perut itu,” ungkap Hadi.

Hal itu, sambung dia, berkorelasi dengan bekas bercak darah di TKP. Kemudian, kondisi jenazah korban yang masih tetap mengeluarkan darah sampai masa hendak dikuburkan pada Minggu, 26 Juli 2020. “Sampai berbekas di kain kafannya,” ucapnya.

Dia menambahkan, sejumlah petunjuk itu diharapkan dapat menjadi bahan petunjuk tambahan bagi penyidik untuk mengungkap misteri di balik kematian korban. Pihak keluarga belum yakin mengenai hipotesa bahwa korban bunuh diri.

“Beberapa petunjuk ini menunjukkan ini bukan murni bunuh diri. Tetapi ada peristiwa yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Sekecil apapun kejanggalan harus diungkap,” tutup Hadi.

Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, yang dikonfirmasi terkait hal ini, Rabu, 29 Juli 2020 mengutarakan pihaknya telah melakukan olah TKP kematian LNS. Dari olah TKP itu, ditemukan diari korban.

“Kita mengamankan buku diari kecil. Isinya intinya mengarah ke hal-hal yang depresi,” ungkap Kasatreskrim Polresta Mataram AKP. Kadek Adi Budi Astawa.

Selain itu barang yang disita antara lain tali dan minyak urut. Sejumlah barang itu menjadi barang bukti. Nantinya, kata dia, akan dikaitkan dengan keterangan saksi-saksi.

Sejumlah barang bukti itu juga nantinya akan diselidiki keterkaitannya dengan kondisi korban. Hasil visum sudah keluar. Namun penyidik belum dapat menjelaskan petunjuk yang diperoleh.

Begitu juga terkait dengan luka lebam dan lecet yang diungkapkan pihak keluarga saat memandikan jenazah korban. “Penyidik tidak bisa mendefinisikan hasil visum. Perlu ahli forensik yang menerangkan. Kami tidak mau berpersepsi,” terangnya.

Nantinya penyebab kematian korban dapat lebih terang terungkap setelah autopsi. Setelah pihak keluarga menyetujui, proses autopsi sedang dijadwalkan. “Secara teknis akan dilakukan gali kubur dan diautopsi di tempat,” imbuh Kadek Adi. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here