KSB Perpanjang Masa Siaga Bencana hingga Maret

Nampak material tanah yang menutupi bahu jalan lintas Sekongang menuju Tongo, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kamis,  24 Januari 2019. (SuaraNTB/ist Polsek Sekongang)

Taliwang (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), berencana memperpanjang SK siaga bencana tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung hingga bulan Maret. Perpanjangan waktu siaga ini, dilakukan sebagai salah satu langkah antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan nanti. Apalagi cuaca ekstrem yang saat ini melanda NTB diprediksi masih akan terjadi hingga bulan Maret mendatang.

“Masa siaga bencana tahap pertama di tahun 2019 akan kita berakhir di bulan Januari. Makanya kita berencana untuk melakukan perpanjangan hingga bulan Maret mendatang. Sehingga pada saat terjadi bencana bisa lansung ditangani dengan cepat dan meminalisir korban jiwa dari setiap bencana yang terjadi,” ujar Kepala pelaksana BPBD kepada Suara NTB, melalui Kabid Kedaruratan Logistik (Darlogs) Hendra Adiwinata S. Pd, Kamis,  24 Januari 2019.

Iklan

Dia mengatakan, hingga saat ini sudah ada beberapa bencana tanah longsor, angin puting beliung, pohon tumbang, banjir dan gelombang tinggi di wilayah setempat. Terutama di wilayah selatan yang hingga saat ini belum bisa dilalui oleh kendaraan roda empat, karena bencana longsor. Hal tersebut terjadi karena kondisi jalannya sudah semakin kritis dan amblas akibat hujan yang terus mengguyur di wilayah tersebut.

Sementara, untuk angin puting beliung juga sudah terjadi di kecamatan Brang Rea dan Sekongkang yang menimpa tujuh unit rumah. Sedangkan untuk gelombang tinggi sudah muali terjadi di Poto Batu yang mengakibatkan Lapak rusak parah. Sehingga masa siaga bencana yang berakhir di bulan Januari harus bisa diperpanjang hingga Maret. “SK siaga bencana yang berakhir bulan ini, akan kita perpanjang sebagai salah satu langkah antisipasi. Karena cuaca ekstrem masih terus terjadi terutama di wilayah selatan,” ungkapnya.

Disebutkannya, beberapa lokasi yang dianggap rawan terjadi bencana baik itu banjir tanah longsor maupun angin puting beliung mulai dipetakan. Khusus kecamatan Brang Ene, Brang Rea, Taliwang, dan Jereweh pihaknya tengah mengatensi terjadinya bencana banjir. “Kita sudah petakan lokasi rawan terjadinya bencana. Selain itu, kita juga sudah bentuk tim patroli untuk memantau lokasi-lokasi rawan ini   sebagai upaya pencegahan,” tukasnya.

Selatan KSB Longsor Lagi

Sementara itu, tanah longsor kembali melanda wilayah selatan KSB (Maluk-Sekongkang). Longsor yang menjadikan akses utama menuju ke desa Talonang serta dua desa lainnya menjadi terkendala. Musibah tanah longsor bukan kali pertama melainkan dari tahun 2018 sudah ada kejadian.

Kapolsek Sekongkang IPDA Anugrah Darmawan S.Trk, kepada Suara NTB, Kamis (24/1) melalui sambungan telpon mengatakan, longsor yang terjadi saat ini merupakan lokasi baru yakni jalan utama Sekongkang-Tongo. Akibatnya, hampir sebagian bahun jalan tertutupi  material tanah setinggi 20 centimeter. Selain tanah, beberapa pohon juga ikut tumbang akibat angin kencang yang mengakibatkan arus lintas ke wilayah setempat terhambat. Karena tidak ada bantuan, akhirnya Kapolsek bersama dengan jajarannya berjibaku untuk bisa memundahkan pohon yang melintang. Sementara untuk material tanah saat ini masih dibiarkan berada di pinggir jalan menunggu alat berat. “Aksesnya saat ini sudah bisa dilalui, meskipun tidak bisa sepenuhnya bahu jalan bisa digunakan,” sebutnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Camat Sekongkang Syafruddin ‘Roni’ tidak menampik kondisi longsor yang terjadi di jalan utama Sekongkang-Tongo. Hal itu terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan disertai angin kencang  sejak kemarin hingga saat ini. Karena sebagain bahu jalan belum ditangani, pihaknya mengimbau kepada warga pengguna jalan untuk berhati-hati agar tidak masuk ke jurang. Karena untuk kendaraan roda empat, masih sangat sulit untuk bisa melewati jalan yang tertutup material tersebut.

Sementara untuk lokasi lain di wilayah selatan, hingga saat ini Talonang masih belum bisa dilalui kendaraan secara maksimal karena longsor susulan. Bahkan ada juga yang jalannya sudah tidak ada lagi berbentuk sehingga membahayakan para pengguna jalan.”Kondisi jalannya   sudah semakin parah di wilayah selatan apalagi saat ini musim hujan karena kondisi tanah yang labil dan rawan terjadi longsor susulan,” ujarnya.  Sehingga butuh penanganan khusus supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (ils)