KSB Perkirakan Rp 600 Miliar Pendapatan Terakhir dari Tambang Batu Hijau

Taliwang (Suara NTB) – Badan Pendapatan dan Aset Daerah (BPAD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) telah menaksir jumlah dana yang akan diterima daerah dari kegiatan terakhir PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) di Batu Hijau.

Ada pun besaran anggaran yang akan diterima KSB dari kegiatan terakhir perusahaan tambang asal Negeri Paman Sam itu diperkirakan berkisar antara Rp 500 miliar hingga Rp 600 miliar. Ada pun sumber dari dana tersebut berasal dari hasil penjualan saham  PT NNT ke PT Amman Mineral Internasional (AMI) dan dividen terhutang yang belum dibayarkan selama kepemilikan saham di perusahaan tambang pengelola blok Batu Hijau itu.

Iklan

“Itu angka perkiraan kami sementara ini. Rp 400 miliar hasil penjualan saham dan Rp 200 miliar dari pembagian dividen saham yang terhutang selama ini,” terang Kabid Pendapatan BPAD KSB, Nurullah kepada wartawan.

Dana dari kegiatan terakhir aktivitas Newmont itu hingga kini belum masuk ke kas daerah. Nurullah mengatakan, informasi yang diperolehnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di PT Daerah Maju Bersaing (DMB) telah terlaksana. Saat itu pemerintah tiga daerah (NTB, KSB dan Sumbawa) selaku pemegang saham sepakat menyalurkan hasil penjualan saham PT NNT itu pada awal bulan Maret.

Hanya saja dalam perjalanannya, mekanisme penyaluran yang belum mencapai kesepakatan, karena masing-masing daerah punya keinginan yang berbeda. “Info yang saya peroleh, katanya ada yang mau ambil semua, tapi ada juga yang minta ditahan sebagian untuk modal DMB,” ungkapnya.

Menurut dia, pemerintah tinggal menunggu masuknya anggaran terakhir dari PT NNT tersebut. Jika nantinya masuk sebelum bulan Mei maka pemerintah akan memanfaatkannya di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (ABPBDP) 2017. Tetapi jika melewati, maka pemerintah baru akan memanfaatkannya di APBD tahun 2018 mendatang.

“Nanti kita akan jadikan SILPA di akhir tahun kalau lewat APBDP 2017. Dan itu tidak masalah karena dananya bukan dari pusat yang butuh pertanggung jawaban di akhir tahun,” timpalnya.

Selanjutnya, ia menyampaikan, terkait royalti PT NNT tahun 2015 yang sempat terhutang oleh pemerintah pusat sudah dinyatakan lunas. Pencairan terakhir dana royalti dari aktivitas pertambangan yang kini telah berpindah tangan ke PT AMI masuk pada akhir tahun 2016 lalu. Ada pun besaran dana royalti 2015 yang ditransfer pusat sebesar Rp 46 miliar.

“Jadi kita ada SILPA kemarin sekitar Rp 200 miliar juga ada tambahan dari royalti itu. Jadi hutang (royalti) pusat yang 2015 sudah habis,” sebutnya. (bug)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here