Kronologis Lengkap Kasus GB dan Tujuh Anggota Parfi

Mataram (suarantb.com) – Ketua Umum Parfi berinisial GB beserta istrinya menjadi tersangka dalam kasus narkoba. Tidak hanya mereka, diketahui enam orang lainnya ikut ditangkap Tim Satgas Merah Putih, Polres Mataram, dan juga Polres Lobar. Dari catatan suarantb.com, berikut kronologis kasus yang menjerat delapan orang Artis Parfi tersebut.

Minggu 28 Agustus 2016

Iklan

Pukul 23.00 Wita Tim Satgas Merah Putih, Polres Mataram, dan Polres Lobar melakukan penggerebekan di kamar nomor 1100 Hotel Golden Tulip Mataram. Penggerebekan tersebut berdasarkan laporan masyarakat tentang dugaaan adanya penggunaan narkoba.

Dalam kamar tersebut terdapat empat orang, yakni GB, istrinya berinisial DA, Richard Nyotokusumo, dan Yuti Yustini. Beberapa saat kemudian Reza Artamevia masuk ke kamar tersebut. Begitu tiba di dalam, pihak kepolisian langsung melakukan penggerebekan.

Barang bukti yang ditemukan di kantong kanan GB yaitu 1 klip Kristal berisi sabu dengan berat 0,94 gram. Sedangkan pada tas DA ditemukan 1 klip Kristal berisi sabu dengan berat 0,68 gram. Ditemukan juga barang bukti lainnya, yakni bong, pipet, dan korek api.

Di kamar terpisah, ditangkap juga Davina Noviyanti Khulosah, Suci, dan Bagas. Turut diperiksa sebagai saksi yakni tiga orang dari pihak Hotel Golden Tulip Mataram. Semuanya dibawa ke Polres Mataram.

Senin 29 Agustus 2016

Polres Mataram melakukan cek urine terhadap delapan Artis Parfi di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Lombok. Hasilnya enam orang dinyatakan positif methamphetamine, yakni GB, DA, Reza Artamevia, Richard, Davina, dan Yuti. Sementara dua lainnya yakni Suci dan Bagas hasilnya negatif.

Selasa 30 Agustus 2016

Kedelapan Artis tersebut beserta tiga orang pihak hotel diperiksa di ruang Res Narkoba Mapolres Mataram. GB mengakui bahwa narkoba yang diklaim adalah obat dengan nama Aspat dibawa dari Jakarta.

Rabu 31 Agustus 2016

Seluruh Artis Parfi tersebut dilimpahkan kasusnya dari Polres Mataram ke Polda NTB. Siang harinya GB dan DA ditetapkan tersangka. Kabid Humas Polda NTB, AKBP Dra Tri Budi Pangastuti mengatakan keduanya dijerat pasal 112 ayat (1) dan/atau pasal 127 ayat (1a) Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkoba, ancamannya 4 sampai 15 tahun penjara.

Pada hari yang sama, Suci dan Bagas dibebaskan. Karena berdasarkan hasil tes urine, keduanya negatif narkoba. Sementara Reza, Richard, Davina, dan Yuti diterbangkan ke RS Bhayangkara Denpasar guna menjalani tes darah dan tes urine ulang. Keempatnya kembali ke Polda NTB malam harinya sekitar pukul 21.00 Wita.

Kamis 1 September 2016

Polda NTB secara resmi menyerahkan Reza, Richard, Davina, dan Yuti ke BNN Provinsi NTB untuk dilakukan assessment guna proses rehabilitasi.  Alasannya, karena keempatnya tidak memiliki barang bukti narkoba dalam penguasaan mereka.

Hari yang sama, GB diterbangkan ke Jakarta untuk keperluan membuka brankas pribadi miliknya. Pihak kepolisian di Jakarta kesulitan membuka brankas tersebut, karena kodenya hanya diketahui oleh GB.

Malam harinya, BNNP NTB menyatakan Reza, Richard, Davina, dan Yuti negatif dari pengaruh narkoba. Alasannya, karena kandungan zat methamphetamine pada tubuh hanya mampu bertahan selama 3×24 jam.  Mereka juga dikategorikan coba-coba pakai, dan tidak mengenal obat jenis Aspat tersebut. Pengakuan keempatnya, Aspat hanya obat sebagai peningkat stimulan tubuh.

Keempatnya diberikan sanksi berupa rehabilitasi jalan. Dua kontroversi muncul pada kasus tersebut. Pertama BNNP NTB dinilai keliru memutuskan rehabilitasi tanpa adanya putusan hakim. Kedua, publik mempertanyakan perbedaan hasil tes antara kepolisian dan BNNP NTB.

Jumat 2 September 2016

Polda NTB klarifikasi perbedaan hasil tes urine BNNP NTB dan kepolisian terhadap keempat Artis Parfi yang memperoleh rehabilitasi. Kasubdit II Ditresnarkoba Polda NTB, AKBP Cheppy Ahmad Hidayat mengatakan, perbedaan tersebut terjadi karena zat methamphetamine yang ada dalam tubuh hanya mampu bertahan 3×24 jam. Sedangkan tes urine dilakukan BNNP NTB telah lewat dari 3×24 jam, sehingga hasilnya berubah negatif.

Cheppy juga mengusut asal-usul narkoba yang dimiliki GB dan DA. Karena keterangan GB bahwa narkoba tersebut dibawanya dari Jakarta. Ini mengindikasikan adanya kelalaian pihak bandara di masing-masing daerah yang disinggahi GB. Namun, dugaan sementara dikarenakan karena narkoba yang dibawanya berukuran kecil, sehingga tidak terdeteksi.

Hari yang sama di Jakarta dilakukan penggeledahan isi brankas GB, penggeledahan di Kantor Parfi, dan penggeledahan di rumah GB di Jalan Niaga Hijau X nomor 1, Pondok Indah.

Sabtu 3 September 2016

Kabid Humas Polda NTB, AKBP Dra Tri Budi Pangastuti mengeluarkan rilis hasil penggeledahan brankas milik GB. Penggeledahan tersebut sebelumnya dilakukan pada Jumat 2 September 2016. Isi brankas tersebut yakni empat poket putih sabu, dua buah magazen yang salah satunya berisi peluru, 658 butir amunisi berbagai ukuran, 32 buku rekening kedaluwarsa, empat buku rekening aktif, satu buah bong, dan 10 saset obat kuat. Selain itu di rumahnya terdapat satwa langka yang diawetkan, yakni harimau sumatera dan elang jawa.

Penyidik juga melakukan penggeledahan di Kantor Parfi yang berada di Jakarta Selatan, dan rumah GB di Jalan Niaga Hijau X nomor 1, Pondok Indah. Tidak ditemukan barang mengarah pada narkoba. GB sementara dititipkan di Polres Jakarta Selatan.

Proses penyidikan kasus tersebut masih terus berlanjut. Hasil belum diekspos pada media.

Selasa 6 September 2016

Rumah GB di Jalan Cikiray RT 04 RW 02, Desa Sukamanah, Kecamatan Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, digeledah oleh penyidik. Wartawan tidak diperkanankan masuk. Penyidik melakukan penggeledahan dua brankas milik GB, namun hasilnya nihil. Hanya barang-barang berupa dokumen yang dibawa untuk keperluan pengembangan.

Di Mataram, Kuasa Hukum GB, Irfan Suryadiata SH MH membeberkan adanya indikasi jebakan pada para Artis Parfi tersebut. Di mana Richard memesan dua jus minuman untuk diminum bersama artis lainnya. Namun anehnya, jumlah minuman yang datang sebanyak tiga gelas. Satu gelas yang tidak dipesan berwarna hijau. Hingga dalam berita kerap disebut “jus hijau”. Keempat artis yang direhabilitasi mencicipi jus tersebut. Irfan mensinyalir kandungan methamphetamine ada pada jus hijau tersebut. Entah siapa yang memesan jus hijau tersebut, hingga kini belum diketahui.

Rabu 7 September 2016

Hasil tes Laboratorium Forensik (Labfor) RS Bhayangkara Denpasar dirilis Kabid Humas Polda NTB. Pemeriksaan sampel darah dan urine pada 31 Agustus 2016, Richard, Davina, dan Yuti dipastikan negatif narkoba. Sementara Reza Artamevia positif methamphetamine.

Hari yang sama, Wadir Resnarkoba Polda NTB, AKBP Eko Santoso melakukan klarifikasi terkait misteri “jus hijau” pada minuman Artis Parfi tersebut. Menurutnya, kandungan methamphetamine atau sabu tidak dengan cara diminum, melainkan dihisap.

Kabid Humas Polda NTB juga merilis pengembangan penemuan sabu milik GB. Di mana hasilnya ditemukan di lokasi terpisah. Di Hotel Golden Tulip Mataram sebanyak 0,94 gram, di Pondok Pinang sebanyak 10 gram, dan di dalam brangkas ditemukan 17,08 gram. Sehingga total sabu milik GB sebanyak 28,02 gram.

Kamis 8 September 2016

BNNP NTB mengambil sampel rambut Reza Artamevia dan Davina. Sebanyak 50 helai rambut diambil BNN untuk selanjutnya akan dibawa ke Jakarta untuk melakukan pengecekan laboratorium. Menurut Kepala BNNP NTB, Kobes Pol Sriyanto, tingkat bertahannya zat methamphetamine pada rambut bertahan hingga 3 sampai 4 bulan.

Sebelumnya Kepala BNN RI, Budi Waseso berencana untuk melakukan tes ulang terhadap Reza cs, pasalnya, Buwas sapaan akrabnya, mengaku bingung terkait perbedaan tes kepolisian dan BNNP NTB. Namun Sriyanto membantah bahwa pengambilan sampel rambut atas perintah Buwas. Menurutnya, itu sudah sesuai standar rehabilitasi dan murni kemauannya.

Malam harinya, seorang wanita berinisial CT (26) dengan didampingi kuasa hukumnya mendatangi Polda Metro Jaya. CT melaporkan kasus pemerkosaan oleh GB terhadap dirinya sewaktu masih menjadi Anggota Padepokan Brajamusti. CT diduga saat ini telah mengandung anak dari GB.

Hari yang sama juga artis Elma Theana mendatangi Polda Metro Jaya untuk diperiksa terkait senjata api milik GB. Elma diketahui pernah bergabung di Padepokan Brajamusti milik GB di Sukabumi.

Jumat 9 September 2016

Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs Umar Septono menolak penangguhan penahanan terhadap GB dan DA. Menurutnya, kasus yang dilakukan keduanya adalah narkoba, yang merupakan kejahatan luar biasa. Sehingga penanganan terhadap kasus tersebut dilakukan juga secara luar biasa.

Sabtu 10 September 2016

GB membantah telah memperkosa CT. Menurutnya, apa yang dikatakan CT adalah fitnah. Sementara Irfan Suriadiata merasa keberatan atas laporan CT. Menurutnya, laporan tersebut telah menyerang nama kliennya, sehingga berencana akan melaporkan balik CT atas dugaan pencemaran nama baik.

Selasa 13 September 2016

Reza Artamevia dengan didampingi adiknya Aksa Gempita dan kuasa hukumnya menjenguk GB dan DA. Sempat terjadi insiden saat membesuk GB. Di mana Reza, GB, dan DA terlibat foto selfie bersama dua petugas polisi. Foto tersebut menyebar di internet dan menjadi viral. Publik menilai polisi tidak seharusnya berfoto ria bersama tersangka maupun Reza.

Rabu 14 September 2016

GB dan DA diperiksa kembali di Direktorat Narkoba Polda NTB. Pemeriksaan berlangsung selama empat jam. Sebanyak 26 pertanyaan penyidik diajukan pada GB. Sementara DA ditanya sebanyak 24 pertanyaan. Pertanyaan terhadap keduanya salah satunya adalah asal-usul narkoba tersebut.

Kamis 15 September 2016

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemui Angelina Sondakh di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur. Kehadiran KPAI untuk meminta klarifikasi kabar bahwa putri tirinya, yang merupakan anak kandung Reza Artamevia berinisial A (14) mendapat terapi menyimpang dari GB.

Jumat 16 September 2016

Pihak Propam Polda NTB memberi sanksi disiplin terhadap dua orang anggota polisi yang berfoto ria bersama Reza, GB, dan DA. Pemanggilan kedua anggota polisi tersebut atas perintah Kapolda NTB.

Kuasa Hukum GB, Irfan Suriadiata membeberkan asal Aspat yang dimiliki GB. Menurutnya, Aspat tersebut dibeli GB saat Umroh di Makkah. Aspat tersebut menurutnya adalah obat sesak napas, karena GB memiliki riwayat penyakit sesak napas dan gula darah tinggi. (szr)