Krisis Regenerasi Petani, Kementan Siap Dukung Perwujudan Politeknik Pertanian di NTB

Salah satu petani hortikultura yang memanfaatkan lahan pertaniannya di Kota Mataram untuk menanam Pepaya California. Sektor pertanian ini sejatinya sangat menjanjikan. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian RI mengkhawatirkan krisis regenerasi petani bangsa Indonesia, tanpa terkecuali di Provinsi NTB sebagai lumbung pangan nasional. Karena itu, Kementan juga siap mendukung terwujudnya Politeknik Pertanian provinsi ini.

Hal ini dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian (BPPSDMP) RI, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr pada  kegiatan Forum Politeknik Pertanian di Mataram, Kamis, 27 Februari 2020. Hadir pada kegiatan ini seluruh perwakilan dari seluruh politeknik pertanian yang ada di Indonesia. Sebagai lumbung pangan nasional, ironis, NTB belum memiliki Poltiknik Pertanian.

Iklan

Untuk itulah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si mewakili gubernur menyuarakan agar Kementerian Pertanian mewujudkannya. “Sejalan dengan program hilirisasi di NTB dan semangat Kementerian Pertanian untuk meregenerasi petani di Indonesia. Kami minta difasilitasi Politeknik Pertanian di NTB,” katanya.

Di NTB, sejak tahun 2018, ada penurunan minat tenaga kerja usia 20-39 tahun yang bekerja di sektor pertanian dengan penurunan cukup signifikan yaitu 415.789 orang. Sebagai daerah yang ramah investasi, ia menyatakan kesiapan memfasilitasi lahan untuk pembangunan Politeknik Pertanian ini. Lahan yang paling memungkinkan adalah lahan milik Pemprov NTB disamping kantor baru Bupati Lombok di Puyung.

Seluas 3,5 hektar yang dikelola Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB. Prof. Dedi Nursyamsi mengiyakan keinginan tersebut. Bahkan ia meminta kepada Pemprov NTB untuk secepatnya mengajukannya ke Kementerian Pertanian. Menurutnya memang sangat penting provinsi ini memiliki Politeknik Pertanian untuk mencetak petani-petani milenial yang menjadi masa depan bangsa ini.

Kehadirannya di Mataram kemarin, ia memaparkan terkait kondisi pertanian di Indonesia. Dari 200 juta lebih penduduk negeri ini, 33 juta didalamnya adalah petani. Dari sebanyak 33 juta petani ini, hanya 2,7 juta adalah petani berusia dibawah 40 tahun. Atau disebut petani millennial (8%). Dalam lima sampai 10 tahun ke depan, Indonesia terancam sektor pertaniannya karena didominasi oleh petani-petani yang memasuki usia uzur.

Karena itu, negara ingin menyelamatkan sektor agraria yang menjadi penopang utama ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Salah satu upaya pemerintah adalah mendorong peran Politeknik Pertanian, serta seluruh stakeholders pertanian untuk mendukung penciptaan petani milenial dan penciptaan wirausaha di sektor pertanian. Tiga program prioritas Kementerian Pertanian diantaranya Gerakan Kostratani, Penumbuhan Pengusaha Petani Millenial dan Peningkatan Ekspor.

“Hilangkan kesan gengsi menjadi petani karena identik dengan lumpur, kotor, dan miskin. Padahal pertanian menjanjikan kesejahteraan. Asal manajemen pertaniannya bagus. Salah satu jawabannya adalah pendidikan vikasi untuk menyelematkan Indonesia dari krisis regenerasi petani,” demikian , Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi. (bul)