Krisis Kebangsaan Pemicu Maraknya Konflik di Bima

Kota Bima (Suara NTB) – Aksi blokade jalan yang seakan menjadi budaya serta konflik antarkampung yang sering terjadi di Bima, dipicu krisis kebangsaan seseorang. Krisis itu semakin mengerucutkan primordialisme di tengah masyarakat.

“Konflik terjadi di Bima bukan konflik sosial. Artinya konflik akibat gesekan emosional antarkampung, tetapi karena krisis kebangsaan,” kata anggota DPR RI, Muhammad Lutfi, SE kepada Suara NTB, Selasa, 14 Februari 2017.

Iklan

Dikatakan krisis kebangsaan seseorang bukan hanya tidak memahami ideologi bangsa. Namun perilakunya lebih mengarah ke hal yang dapat merugikan masyarakat banyak. Yang sebenarnya bisa dikanalisasi.

“Namun semangat menghargai kepentingan umum daripada kepentingan individu harus diutamakan. Saya yakin akan bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Hanya saja, yang terjadi di lapangan saat ini, tindakan atau perilaku menghargai kepentingan umum dikalahkan oleh kepetingan segelintir orang. Akibat dari krisis kebangsaan.

“Masyarakat harus dibangunkan kesadaran secara utuh. Sebab persoalan blokade jalan dan konflik dapat memberikan dampak pada kampung-kampung yang lain,” ujarnya.

Untuk menghentikan aksi blokade atau konflik tersebut tidak hanya dibebankan kepada pemerintah atau aparat keamanan. Namun kesadaran masyarakat yang harus dibangun serta proses pemahaman yang sama.

“Mempercayakan pada tokoh di suatu wilayah untuk berembug bersama menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi,” terangnya.

Dia menambahkan, tokoh-tokoh masyarakat harus duduk bersama membangun satu konsensus bersama. Apabila hal itu dilanggar, dapat memberikan sanksi moral sesuai kesepakatan dalam konsensus itu.

“Karena blokade atau konflik yang terjadi hanya dibuat-buat yang setiap saat terus terjadi,” pungkasnya. (uki)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here