Krisis Air, Warga Selengen Konsumsi Air Hujan

Warga Dompo Indah, memperlihatkan air hujan yang ditampung untuk kebutuhan konsumsi. (Suara NTB/istimewa)

Tanjung (Suara NTB) – Bendungan Sambil Jengkel Timur, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), merupakan urat nadi ribuan jiwa warga Desa Selengen. Saat bendungan itu tertimbun longsor kedua kalinya, warga benar-benar berada dalam situasi krisis air.  Baik untuk konsumsi, maupun irigasi persawahan.

Kepala Dusun Dompo, Kordi, kepada Suara NTB, Senin, 28 Januari 2019 mengakui, warganya dan warga dusun lain mengalami krisis air bersih. Terutama sejak material longsoran menutup Bendungan Selengen pascahujan disertai puting beliung pada Selasa (22/1) malam.

Iklan

Bendungan ini, kedua kalinya tertutup tanah tebing di bahu bendungan. Pertama pascagempa 5 Agustus. Namun saat itu, BWS dan TNI mengeluarkan sumber daya dan berhasil mengalirkan kembali air irigasi warga. Pada longsoran kedua ini, sudah satu minggu berjalan belum ada tanda-tanda penanganan yang diberikan oleh Pemda KLU.

Kordi menegaskan, 215 KK atau 652 jiwa warga di Dusun Dompo, krisis air bersih. Mereka hanya bisa menadah air hujan yang ditampung dengan ember, gentong, drum bekas dan lainnya.

‘’Untuk konsumsi rata-rata warga menggunakan air hujan. Ada juga yang memanfaatkan kendaraan roda 3 milik desa. Itu kami pinjam, mengangkut air dari sumur bor Tampes sejauh 4 Km,’’ kata Kadus.

Untuk mengangkut air, Kadus memberanikan diri menggunakan kas dusun untuk keperluan membeli BBM roda 3. Ia tidak tega menarik warga yang saat ini berada dalam kesusahan pascagempa.

Pascagempa, warga Dompo dan warga dusun lain di Desa Selengen dibantu air bersih oleh TNI. Selain TNI, PMI juga tercatat 3 bulan mendistribusikan air untuk warga setempat. Kini, mereka seolah tak tahu harus ke mana mengadukan persoalan ini.

‘’Ke BPBD belum (minta bantuan), kadang-kadang prosedurnya terlalu lama,’’ imbuhnya pesimis.

Tidak hanya di Dompo, pengakuan Kordi, di dusun lain seperti di Gubuk Baru dan Sambik Jengkel Perigi, bahkan kondisinya lebih parah. Kedua dusun ini tak miliki akses air sama sekali, selain air dari saluran irigasi yang berasal dari Bendungan Selengen.

‘’Yang paling kritis itu di Gubuk Baru dan Sambil Jengkel Perigi. Di sana sudah seperti terisolasi. Untuk wudhu saat Jumatan saja kesulitan,’’ katanya.

Diamini Kadus Sangiang, Sudiar bahwa warga di dusunnya juga kesulitan air bersih untuk konsumsi, mandi dan mencuci. Sejak irigasi terputus, mereka memanfaatkan air hujan. Air yang ditadah, dimasak untuk diminum. Air yang sama juga digunakan untuk memasak.

‘’Saat tidak ada hujan, air kami ambil di pinggir dam. Kami bikin sumur di bagian tepi untuk menyaring. Kadang kalau banjir besar, sumurnya hilang,’’ ujarnya.

Warga Selengen tidak mengetahui sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Tanda-tanda tindaklanjut dari Pemda untuk mengeruk sedimentasi longsoran atau membawakan air bersih untuk warga, belum terlihat.

Apesnya bagi warga, diantara warga sudah ada yang menyemai bibit dan siap tanam. Mereka mengira normalisasi irigasi pascalongsoran pertama tidak diikuti longsoran lanjutan yang lebih parah. Bibit padi yang mereka semai, terancam gagal tanam. Sawah-sawah mereka akan menganggur.

‘’Masyarakat sudah ada yang menyemai bibit padi, usianya berkisar 20 hari sampai dia tanam. Saya sendiri sudah tanam bibit, usianya 17 hari.’’

‘’Makanya sekarang kami lagi bingung, mau tanam padi, air tidak ada. Sedangkan puluhan hektar sawah di sini, adalah sumber ekonomi satu-satunya yang diharapkan warga,’’ tandas Sudiar. (ari)