Krisis Air Bersih, Warga Dua Kelurahan di Dompu Blokade Jalan

Puluhan warga di dua kelurahan saat menggelar aksi demonstrasi dengan memblokade jalan raya. Mereka menutut agar PDAM segera menyelesaikan persoalan krisis air bersih yang sudah lama dialami, Kamis,  24 Januari 2019. (Suara NTB/ist)

Dompu (Suara NTB) – Curah hujan ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Dompu beberapa hari terakhir, tidak selalu sejalan dengan tercukupinya kebutuhan air bersih masyarakat. Contoh kecil, krisis air bersih yang kini dialami ratusan warga di Keluarahan Kandai II dan Simpasai.

Buntut dari persoalan itu, puluhan warga dua kelurahan menggelar aksi demonstrasi dengan memblokade jalan raya di simpang tiga Lingkungan Ginte. Mereka menuntut komitmen PDAM untuk segera menyelesaikan masalah ini.

Iklan

Salah seorang orator aksi, Irfan Samudra menegaskan, tidak akan membuka blokade jalan sebelum adanya komitmen PDAM untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat saat ini. Apalagi krisis dan keterbatasan pasokan sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.

“Gerakan ini murni untuk menyuarakan kebutuhan dasar kami yang bertahun-tahun menghadapi krisis dan kekekurangan pasokan air bersih dari PDAM,” ungkapnya.

Upaya mengkomunikasi masalah ini sudah beberapa kali dilakukan, tetapi masyarakat khususnya pelanggan PDAM tetap saja mengalami krisis air bersih. Itu artinya, menurut Irfan Samudra, PDAM telah berbohong dan hanya ingin meminta tagihan dari beban pemakaian pelanggan tiap bulannya.

“Sebelumnya PDAM berjanji mengatasi persoalan ini tetapi kenyataanya sampai sekarang tidak satupun yang direalisasikan, padahal kita tahu air adalah kebutuhan dasar bagi masyarakat,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan orator aksi lainnya yang merupakan perwakilan Karang Taruna Kelurahan Simpasai, Kiswanto. Hanya saja penekanannya Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin diminta segera mengevaluasi keberadaan Direktur PDAM yang dianggap lamban mengatasi persoalan air bersih di wilayah ini.

Sementara itu, Direktur PDAM Dompu, Agus Supendi, SE, yang menemui massa aksi siang kemarin mengaku, tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi persoalan ini, sebab kondisi Bendungan Kemudi yang rusak diterjang banjir sampai hari ini masih belum mendapat sentuhan perbaikan karena tak ada kontraktor yang berani mengerjakannya.

Kalaupun dipaksa melayani kebutuhan pelanggan di dua kelurahan normal seperti biasa, ia memastikan pelanggan di wilayah lain juga akan menyuarakan hal yang sama. Karenanya, untuk sementara waktu pelanggan diminta bersabar sampai rencana perbaikan tersebut terealisasi.

“Alternatif kami sekarang pelayanan dilakukan secara bergilir, dua hari di wilayah Nowa dan Bakajaya kemudian dua hari lagi di Kelurahan Kandai II dan sekitarnya. Untuk rutin tiap hari sangat sulit karena debit air yang tertampung jauh di bawah standar, hanya 18 liter per detik dari biasanya 40 liter per detik,” pungkasnya. (jun)