Krisis Air Bersih Landa 54 Desa di Lotim

DISTRIBUSI - Petugas dari BPBD Lotim saat mendistribusikan air bersih kepada masyarakat di Dusun Aroinak Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, Sabtu,  13 Oktober 2018. (Suara NTB/BPBD Lotim)

Selong (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) melakukan kerja ekstra untuk melakukan pendistribusian air bersih di pertengahan bulan Oktober ini. Di Kabupaten Lotim, terdapat sebanyak 54 desa yang mengalami krisis air bersih yang tersebar di enam kecamatan.

Kepada Suara NTB, Sabtu,  13 Oktober 2018, Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik BPBD Lotim, Lalu Rusnan mengatakan, desa yang paling terdampak krisis air bersih tersebar di tiga kecamatan di antaranya, Kecamatan Jerowaru, Keruak dan Sakra Timur. Sedangkan tiga kecamatan lainnya yakni di Kecamatan Pringgabaya, Suela dan Terara hanya beberapa desa.

Iklan

Maka dari itu, untuk di wilayah selatan pendistribusian air bersih dilakukan mobilasi penuh. Sementara di wilayah utara dan timur pendistribusian dilakukan secara berkala. “Wilayah yang mengalami kekeringan sebanyak 54 desa tersebar di enam kecamatan. Masing-masing desa, kita distribusikan 1.000 liter,” terangnya.

Seperti di Dusun Aroinak Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, merupakan desa yang cukup terdampak kekeringan. Masyarakat setempat hanya mengandalkan air bersih dari bantuan pemerintah dikarenakan semua sumber mata air masyarakat mengering sejak beberapa bulan yang lalu. Selain itu, tim dari BPBD Lotim juga melakukan pendistribusian air bersih terhadap masyarakat korban gempa seperti di Desa Sajang Kecamatan Sembalun serta untuk pembangunan Masjid Nurul Huda di Kecamatan Sikur.

Meski demikian, wilayah Sembalun dan Sikur tidak termasuk di dalam wilayah krisis air bersih untuk tahun ini. “Kekeringan ini kita perkirakan akan terjadi hingga bulan November,”ujarnya.

Di samping dilakukan pendistribusian air bersih, Lalu Rusnan mengungkapkan bahwa BPBD Lotim juga bergerak cepat untuk melakukan pembersihan lokasi rumah warga yang terdampak gempa beberapa waktu lalu. Langkah itu dilakukan untuk persiapan pembangunan rumah hunian tetap (huntap) masyarakat. Di mana masyarakat korban gempa yang dibangunkan rumah dengan model konstruksi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA).

Adapun dalam memenuhi kebutuhan bersih masyarakat ke depannya, pemerintah daerah saat ini terus mendeteksi sumber-sumber mata air untuk kemudian dialirkan ke pemukiman masyarakat. Apabila sumber air ditemukan, maka selanjutnya dilakukan pembangunan sumur bor terhadap titik-titik yang sudah di geolistrik. Termasuk untuk di wilayah selatan, ke depan direncanakan dilakukan pengadaan dan pembangunan water treatment untuk menyulir air laut menjadi air tawar, serta berkoordinasi dengan PDAM dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. (yon)