Krisis Air Bersih Belum Terpecahkan

Selong (Suara NTB) – Persoalan kekeringan yang berujung pada musibah krisis air bersih diakui Wakil Bupati Lotim, H. Haerul Warisin masih menjadi persoalan pelik yang belum terpecahkan. Agar bisa lepas dari persoalan yang terjadi tiap tahun itu, ia menyatakan harapannya bisa mengolah air Bendungan Pandanduri.

“Satu satunya harapan kita bisa olah Pandanduri,” terangnya saat ditemui di Selong, Senin, 5 September 2016.

Diakuinya, krisis air bersih utamanya di wilayah Lotim bagian selatan ini tidak bisa disembunyikan. Pihaknya berharap persoalan krisis air bersih ini tidak lagi terulang tiap tahun. Target 2017 mendatang, air bendungan Pandanduri yang mampu menampung 27 juta kubik  itu bisa diolah bagi penyediaan air bersih bagi masyarakat Lotim di bagian selatan.

Saat ini, debit air terus mengalami penyusutan di sejumlah mata air. Keberadaan mata air yang sebagian besar ada di Lotim bagian utara ini tidak bisa dipaksakan untuk dialirkan semuanya ke selatan. Paling bisa, pengalirannya hanya untuk mengisi Lotim bagian tengah.
Diakuinya, pihaknya pernah merencanakan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mengalirkan air dengan memasang pipa kapasitas 150 liter per detik dari Trengwilis Kecamatan Montong Gading. Namun terjadi penolakan keras dari masyarakat.

Selain itu, dirinya bersama wakil gubernur pernah mendatangi masyarakat di sekitar areal mata air di Trengwilis untuk memberikan pengertian kepada masyarakat. Namun, masih terdapat kendala yang harus dihadapi. ‘’Jika hitungan awal, debit air 250 liter per detik. Akan tetapi setelah diukur ulang tersisa katanya hanya 60 liter per detik. Sehingga jumlah itu tidak memungkinkan untuk bisa dialirkan sampai ke wilayah selatan,’’  ujarnya.

Pengambilan air dari Trengwilis ini kemudian dialihkan ke Tetebatu. Akan tetapi, dari masyarakat Tetebatu pun masih terjadi penolakan. Keputusan terakhir dilakukan sewa Rp 25 juta per tahun supaya bisa mengisi pipa yang sudah terpasang.

Alasan penolakan warga, kalau semua dialirkan ke selatan, maka sawah di sekitar akan terancam. Irigasi ini juga dinyatakan merupakan bagian dari kebutuhan mendasar masyarakat, sehingga dipandang penting juga untuk diamankan.  Mengingat fakta terus terjadinya penyusutan mata air bersih, wabup meminta agar masyarakat benar-benar menjaga sumber mata air. Tidak melakukan penebangan pohon sembarangan.

Selain pengolahan air dan sumur bor pun terus diupayakan pengadaannya oleh Pemkab Lotim. Kehadiran sumur bor ini diyakini juga bisa atasi kekurangan. Wabup berharap, para anggota dewan yang memiliki aspirasi hendaknya bisa berikan aspirasi yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Aspirasinya diharap tidak bersifat konsumtif.

Untuk mengatasi krisis air bersih ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim terus mendistribusikan air bersih ke wilayah selatan. Seperti yang dilakukan Senin kemarin, beberapa tanki air bersih disalurkan ke masyarakat secara gratis.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Lotim, H. Napsi, kegiatan distribusi air bersih untuk sementara masih dilakukan sambil berusaha mencari langkah-langkah kongkrit agar masalah krisis air bersih di selatan ini tidak lagi diatasi dengan cara mengantarkan air. BPBD Lotim katanya malah ingin berhenti mendistribusikan air bersih. Di mana, penyediaan air bersih bisa diatasi  melalui pengadaan sumur-sumur bor.

Sementara Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, M. Takdir Illahi mengakui, kekeringan yang dialami oleh masyarakat di beberapa kecamatan di Kabupaten Lotim sudah terjadi sejak awal tahun 2016 lalu, terutama yang paling parah di Kecamatan Keruak, Jerowaru dan Sakra Timur. Di tiga kecamatan ini, katanya, pendropan air bersih sudah dilakukan sejak bulan Februari-Maret lalu.

Seiring terjadinya musim kemarau, saat ini kekeringan berlanjut dialami oleh Kecamatan Sakra Barat, Suela dan Sambelia. Pendropan air di kecamatan tersebut sudah dilakukan sejak bulan Juni berdasarkan permintaan dari masyarakat dan pemerintah desa setempat. Bahkan untuk hari Senin, BPBD Lotim kembali mendropkan air bersih sebanyak lima tanki untuk masyarakat di Desa Kaliantan dan Pemongkong.

Bahkan untuk di wilayah Selong, katanya, saat ini debit air sudah mulai mengkhawatirkan, sehingga ia meminta kepada masyarakat khususnya di Kecamatan Selong  lebih irit dalam menggunakan air bersih agar keberadaan air bisa stabil dan terjaga.

Terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Hama Penyakit pada Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Lotim,  Kamal Marsudi mengatakan pihaknya saat ini sudah berkoordinasi dengan BMKG terkait kondisi cuaca yang tentunya berdampak terhadap tanaman. Dari hasil koordinasi itu, Lotim akan mengalami La Lina yang artinya hujan akan datang lemah dan lebih awal.  (rus/yon)