Kriminolog Unram Minta APH Tuntut Pelaku Pungli Dana Masjid Hukuman Mati

(kiri ke kanan) Tiga tersangka pungutan dana rehabilitasi masjid pascagempa, Lalu Basuki Rahman, dan H Silmi kompak menutupi wajah saat dihadirkan dalam konferensi pers yang dipimpin Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam, Kamis, 17 Januari 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pengamat Kriminologi Universitas Mataram, Dr. H. Muhammad Natsir, SH., M.Hum., meminta aparat penegak hukum menerapkan pasal berat terhadap staf PNS di lingkungan Kemenag Lombok Barat yang tertangkap dalam operasi tangkap tangan dana rehabilitasi masjid pasagempa.

Menurut Natsir, pungli dana rehabilitasi masjid sangat memalukan dan masuk kategori kriminogen, yang berarti bahwa tidak hanya mencuri dan merampok, tapi memotong dana rehabilitasi masjid juga merupakan tindakan kejahatan berat.

Iklan

“Ini sudah jadi karakter mestinya Kemenag ini kan jadi teladan karena ada kata agama, melekat nilai moralitas ini memalukan,” sambung Dosen Fakultas Hukum ini.

Di samping itu, perbuatan para tersangka juga sangat disesalkan karena mereka ini merupakan pejabat yang harus jadi contoh. Tapi, mereka justru memotong dana rehabilitasi masjid sebagai tempat ibadah.

“Inilah anomali, orang orang ini kehilangan norma yang harusnya jadi panutan. Tapi justeru memalukan. Ancamannya hukuman mati karena dana bencana ditambah lagi tempat ibadah,” sebutnya.

Oleh sebab itu, aparat penegak hukum harus berani menerapkan pasal berlapis karena ada unsur penyertaan, ada yang memerintahkan, ada yang menyuruh, ada yang melakukan.

Selain itu, Wakil Rektor III Unram ini juga meminta agar kasus ini diungkap sampai ke akarnya. Mengingat melibatkan banyak orang, sehingga tersangka juga bisa bertambah lagi dari yang telah ditetapkan aparat penegak hukum.

“Ini Allah yang membongkar. Jangan jangan ini sudah berapa kali, ini bisa dikoreksi. Apalagi ini kita pulau seribu masjid. Mereka merusak citra NTB. Ini sangat berbahaya ke depan dan jadi pembelajaran buat kita sehingga perlu dibikin berat dan harus dicari mata rantai tertinggi, tidak cukup sampai yang sudah tersangka,” pungkasnya. (dys)