Pencemaran Sungai di Mataram Belum Bisa Dilaporkan

Petugas membersihkan sungai Jangkuk di Mataram, beberapa waktu lalu. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram sampai saat ini belum bisa melaporkan kondisi pencemaran beberapa sungai di Mataram. Baik Sungai Jangkuk dan Sungai Babak. Hal itu dikarenakan, unit pelaksana teknis daerah (UPTD) laboratorium (Lab) milik DLH kota Mataram butuh pengambilan sampel secara simultan dan berkala.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, H. Nazarudin Fikri mengatakan, untuk pengambilan sampel air beberapa sungai di Mataram belum bisa  dilakukan pihak UPTD Lab. DLH Kota Mataram di Sayang-Sayang. Hal itu dikarenakan, UPTD Lab DLH kota Mataram akan distandarkan terlebih dahulu sesuai standar yang sudah ditetapkan.

“Jadi belum bisa kita ambil sampelnya. Karena UPTD Lab kita butuh distandarkan. Setelah standarnya sudah jadi, baru kita bisa mengeluarkan hasil dari pengambilan sampelnya. Saat ini kan belum bisa kita ngambil sample airnya,” katanya kepada Suara NTB, Kamis, 6 Februari 2020. Juga ujar Fikri, pengambilan sampel harus dilakukan di semua musim.

Pengambilan sampel di semua musim itu, kata Fikri, akan membuat hasil kajian UPTD Lab DLH lebih akurat. Mengingat, kondisi sungai saat musim hujan, musim kering dan musim biasa berbeda.

“Dari itu, harus diperhatikan juga musimnya jika harus mengambil sampel di beberapa sungai di Mataram. Nah pas lagi banjir ada tidak ecolinya. Pas musim kering ada atau tidak. Jadi, harus hati-hati ambil sampelnya,” katanya.

Selama ini, ujar Fikri, semua sungai di Mataram diduga tercemar ecoli. Akan tetapi, hal itu masih belum akurat mengingat waktu pengambilan sampel harus akurat. Katanya, pengambilan sampel itu akan memudahkan petugas UPTD Lab DLH menyimpulkan apakah semua sungai di Mataram sudah tercemar B3 dan ecoli.

“B3 itu kan termasuk merkuri dan lainnya. Karena semua itu akan ke laut. Jadi harus sangat teliti juga saat pengambilan sampel airnya,” pungkasnya.

Untuk menghindari human error, kata Fikri, pengambilan sampel harus dimulai dari musim hujan sampai musim kering. Pengambilan sampel juga harus rutin dilakukan. Ia pun akan menjadwalkan pihak UPTD Lab DLH untuk tetap melakukan pengambilan sampel di semua musim untuk semua sungai di Mataram. (viq)