Kenaikan Harga Rokok Picu Kemiskinan

Isa.(Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Isa, SE.,MM mengatakan, kenaikan harga rokok dapat memicu peningkatan jumlah warga miskin di Mataram. Pasalnya, kebutuhan rokok di kalangan masyarakat menengah ke bawah masih tinggi.

“Kenaikan harga rokok sangat berpengaruh, karena rokok dikonsumsi oleh masyarakat, tetapi tidak berdampak pada penambahan kalori ketika dikonsumsi. Karena tidak punya kalori rokok ini kan jadi sia-sia,” katanya kepada Suara NTB, Rabu, 22 Januari 2020.

Dikatakan Isa, walaupun pengeluaran masyarakat kota Mataram meningkat, pengeluaran untuk kebutuhan rokok bisa picu kemiskinan. Karena itu, mengkonsumsi rokok tidak memicu penambahan kalori pada masyarakat. “Kalau masyarakat sudah mampu itu tidak berpengaruh signifikan. Yang berpengaruh itu masih berkisar antara kalangan warga pada garis kemiskinan atau pendapatan di bawah UMR,” tegasnya.

Rokok ini kata Isa, masuk dalam jenis makanan. Dalam pantauan data BPS kota Mataram, pengeluaran konsumsi rokok untuk masyarakat di Mataram rata-rata per hari di kalangan masyarakat menegah ke bawah capai 6 biji. Jika dirupiahkan kata Isa, rata-rata pengeluaran rokok per hari masyarakat menengah ke bawah capai Rp10.000/hari.

“Jika dirupiahkan per hari itu capaiRp10.000. Dalams ebulan bisa capai Rp300.000,” katanya. Dicontohkan Isa, dibandingkan dengan jumlah konsumsi beras masyarakat di Mataram capai Rp400.000/bulan dari jumlah pendapatannya. Jika dijumlahkan, biaya konsumsi rokok plus beras per bulan jadi bertambah jika dikalkulasikan.

“Presentasinnya seperti itu, tapi tren masyarakat kita di Mataram kan tidak semuanya merokok. Konsumsi rokoknya lebih sedikit. Cuma itu tadi, walaupun sedikit, tapi berpengaruh. Bayangkan saja kalau Rp300.000/bulan untuk rokok plus Rp400.000 untuk beras,” ungkapnya.

Salah satu warga asal Irigasi Kekalik Jaya Mataram, Abdul Gani menjelasakan, dalam sehari ia menghabiskan rokok sebanyak satu bungkus rokok. Jika dikalkulasikan, pengeluaran Gani dalam sepekan saja bisa mencapai Rp200.000 untuk membeli rokok.

“Hitung saja, kalau sebulan bisa capai Rp500.000 untuk beli rokok, bahkan lebih. Tapi, kalau dibandingkan dengan penghasilan, masih cukuplah untuk beli rokok,” kata pekerja swasta di salah satu perusahaan di Mataram. Ia pun berencana, jika harga rokok naik capai 30 persen, ia berkomitmen akan berhenti merokok. Sebab, selama ini kata dia, pengeluaran dari rokok kerap tak terkendali. “Semoga bisa berhenti merokok, walaupun tidak mudah,” katanya. (viq)