Jembatan Penyeberangan di Jalan Pejanggik Dibongkar

Pekerja membongkar bagian atap JPO di jalan Pejanggik. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan Bank Indonesia (BI), Jalan Pejanggik, Kota Mataram, akhirnya dibongkar. Jembatan itu dinilai tidak difungsikan maksimal. Dikhawatirkan justru digunakan hal negatif.

Pantauan Suara NTB, Senin, 20 Januari 2020, proses pembongkaran melibatkan pihak ketiga. Enam orang memotong bagian demi bagian secara bertahap. Diperkirakan pemotongan jembatan membentang antar SMPN 15 Mataram dan BI memerlukan waktu selama tiga hari.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Mataram, H. M. Kemal Islam menjelaskan, pertimbangan pemerintah membongkar jembatan tersebut antara lain karena  tidak dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat maupun pelajar.

Baca juga:  Monumen Mataram Metro Segera Rampung

Jembatan itu juga berada persis di depan kantor BI yang merupakan objek vital negara. Dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan negatif.

Pembangunan juga dinilai menyalahi aturan karena dibangun di atas trotoar. “Disamping itu jembatan ini sudah cukup tua. Besinya sudah berkarat semua,” kata Kemal.

Satu sisi keamanan dinilai mengganggu kamera pengintai mengawasi kendaraan milik Dinas Perhubungan dan Polda NTB. Dari hasil pembongkaran besinya akan dimanfaatkan kembali sebagai jembatan.

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh sambung Kemal, telah meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang mencari pemukiman sekiranya membutuhkan dibangunkan jembatan sebagai akses bagi pejalan kaki. “Pak Wali minta Kadis PU survei lingkungan yang sekiranya membutuhkan jembatan,” tandasnya.

Baca juga:  Kawasan Bisnis Cakra Kembali Semrawut

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh yang langsung meninjau proses pembongkaran JPO mengatakan, jembatan tersebut tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Letaknya yang berdekatan dengan Kantor BI merupakan objek vital negara dikhawatirkan dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan negatif.

Sebelum proses pembongkaran, ia meminta dipastikan perizinan reklame di lokasi tersebut tidak diperpanjang lagi. “Memang sudah tidak dimanfaatkan,” ungkapnya.

Sementara itu, dibongkarnya JPO di depan SMPN 15 dan Kantor BI diapresiasi oleh sejumlah siswa. Bagas, siswa kelas VIII mengaku, selama ini, tidak pernah menggunakan JPO untuk menyeberang. Sepengetahuannya, jarang bahkan tidak ada rekannya yang menggunakan. Siswa – siswi memilih menunggu di trotoar atau menyeberang lewat jalan raya. “Ndak pernah lewat sana. Lewat jalan saja,” kata Bagas.

Baca juga:  Jembatan Penyeberangan di Perempatan Sweta akan Dibongkar

Dia mendukung pemerintah membongkar jembatan tersebut. Kadang – kadang jembatan itu dipakai untuk merokok oleh siswa. Siswa lainnya, Manda juga mengaku, tidak pernah menggunakan jembatan tersebut untuk menyeberang. Demikian pula, teman – teman sekolahnya lebih senang menunggu di depan sekolah daripada harus menyeberang. (cem)