Kos-kosan di Mataram Rawan Digunakan Pesta Narkoba

Lalu Martawang (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah kos-kosan di Mataram masih rawan sebagai tempat pesta narkoba. Di salah satu kos-kosan di lingkungan Karang Bagu Mataram baru-baru ini ditemukan 4 pengguna narkoba terjaring operasi pihak BNN.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang mengatakan, persoalan kos-kosan ini, masuk dalam Perda kota Mataram. “Mana yang mendapat izin dan mana yang memang tidak sesuai dengan Perda itu, menentukan apakah itu kena pajak atau tidak,” jelas Martawang, Senin, 9 Desember 2019.

Walikota Mataram kata Martawang, sudah mendelegasikan kewenangan kepada camat dan lurah, untuk persoalan kos-kosan ini. Persoalan kos-kosan ini, camat dan lurah di Mataram harus intens melakukan pemantauan. “Seperti apa yang dilakukan camat Sekarbela ini, ada membuat kartu domisili sementara untuk warga yang ngekos,” kata Martawang.

Baca juga:  BNN Antisipasi Narkoba Masuk Gili

“Konteksnya apa, untuk melakukan pemantauan untuk menciptakan iklim aman dan kondusif. Manakala terjadi hal-hal di luar norma-norma kehidupan kita. Di situ misalnya, jangan sampai kos-kosan dijadikan bertemunya apa yang tidak kita inginkan (pesta narkoba),” jelasnya.

Untuk itu jelas Martawang, dalam meningkatkan keamanan dan kenyamanan di lingkungan ke bawah, lurah, kaling, Satpol PP, Kesbangpol dan lainnya juga diharapkan ikut melakukan antisipasi akan perihal tersebut. “Kita minta untuk dipantau terus, jangan sampai disalahgunakan oleh penghuninya,” katanya.

“Karena persoalan narkoba iniseperti fenomena gunung es,” jelas Martawang. Untuk tiga kelurahan yang berada di zona merah rawan peredaran narkoba, Pemkot ingin pihak kelurahan mengatensi dengan serius. “Harus diatensi secara serius, di Karang Taliwang, Abian Tubuh, dan Dasan Agung,” katanya.

Baca juga:  Razia Hiburan Malam di Sumbawa, Dua Orang Positif Narkoba

Pada RAPBD kota Mataram tahun 2020 mendatang jelas Martawang, Pemkot Mataram akan menganggarkan untuk meningkatkan penanganan terkait bahaya narkoba di lingkungan masyarakat. “Fenomenanya begitu, sebenarnya yang seperti ini umumnya berada di kawasan pariwisata,” katanya.

“Jangan sampai, karena kota Mataram dilewati  sebagai daerah wisata lalu kemudian dijadikan pasar potensial untuk narkoba. Itu harus sama-sama kita waspadai, jangan sampai tumbuh dan berkembang,” paparnya. Secara administrai kata Martawang, penyebaran narkoba ini juga harus diatensi Pemprov NTB.  “Karena bagaimana pun lebih baik mencegah daripada mengobati mereka,” jelas Martawang. (viq)