Pemkot Tidak Tahu, Sejumlah Lingkungan di Babakan Dilanda Kekeringan

Beginilah keseharian warga Babakan. Mereka terpaksa mengambil air dari sumber air milik tetangga yang memiliki fasilitas sumur bor bahkan ke lingkungan sebelah akibat kekeringan. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar empat bulan. (Suara NTB/fit)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Tinggal di ibukota provinsi rupanya tidak menjamin tersedianya air baku. Setidaknya hal ini dialami warga sejumlah lingkungan di Babakan, Kota Mataram.

Sejak empat bulan terakhir, warga di sana terpaksa harus mengambil air dari sumber air yang masih aktif. Sumur-sumur milik warga di Babakan mengering, kecuali beberapa warga yang menggunakan fasilitas sumur bor.

Mengangkut air menggunakan jeriken di pagi dan sore hari, akhirnya menjadi pemandangan biasa di Babakan. Kondisi ini diperparah dengan sumber air dari PDAM, juga ikut macet.

Ironisnya, Pemkot Mataram tidak mengetahui kondisi ini. Hal ini diungkapkan Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, ST., saat rapat gabungan dengan TAPD di DPRD Kota Mataram.

‘’Yang terpengaruh kekeringan ini ada beberapa kelurahan,’’ katanya kepada Suara NTB usai rapat gabungan. Sentrum kekeringan ini, lanjut dia, ada di Babakan.

Anggota Dewan dari Dapil Sandubaya ini menyebutkan ada empat lingkungan di Babakan yang paling parah terdampak kekeringan. Masing-masing Babakan Timur, Babakan Timur Selatan dan Babakan Sayo.

Di empat lingkungan itu setidaknya dihuni oleh 700 – 800 kepala keluarga. ‘’Jadi warga harus cari sumber air dari tetangga yang menggunakan sumur bor ataupun dari lingkungan sebelah,’’ katanya.

“Warga bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengambil air. Hal ini jelas bisa mempengaruhi produktivitas warga,’’ sesalnya.

Kondisi yang sama diduga akan terjadi lagi tahun depan. ‘’Karena memang iklimnya sudah berubah,’’ cetusnya.

Politisi PKS ini melihat ada dua solusi untuk menjawab persoalan kekeringan ini. Pertama membangun sumur bor dan yang kedua adalah normalisasi PDAM. ‘’PDAM ini hanya nyala tengah malam saja. Itupun paling lama satu jam,’’ ucapnya.

Irawan menyadari dalam kondisi kemarau panjang seperti ini, debit air menurun sehingga pasokan air dari pipa-pipa PDAM ikut berkurang. ‘’Tapi ketika ini kita angkat di rapat gabungan komisi, ternyata eksekutif tidak tahu. Ini menjadi pertanyaan besar kita,’’ kata Irawan.

Sejatinya, Pemkot Mataram harus membuat program bagaimana mengantisipasi kekeringan. ‘’Paling tidak memulai dengan kajian,’’ imbuhnya. Namun demikian, kajian inipun harus jelas aktualisasinya.

Sebetulnya, aku Irawan, beberapa anggota Dewan sudah berinisiatif membuat program sumur bor di Babakan melalui pokir. ‘’Hanya saja dari eksektif mengatakan, ini tidak bisa dieksekusi karena harus ada kajian terlebih dahulu,’’ demikian Irawan.

Ketua TAPD Kota Mataram, Dr. H. Eko Saswito memberi solusi mengatasi dampak kekeringan di Babakan dengan mendistribusikan bantuan air bersih. Namun solusi ini dianggap tidak efektif karena cakupan daerah terdampak kekeringan cukup luas. (fit)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.