Mulai Membusuk, Tumpukan Sampah Sejumlah TPS di Kota Mataram Dikeluhkan Warga

Saefuddin, operator sampah Lingkungan Taman Seruni, Kelurahan Taman Sari tidak bisa membuang sampah di transfer depo di Lawata. Tumpukan sampah mengeluarkan bau busuk dan mulai dikeluhkan oleh warga setempat. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Warga yang tinggal maupun beraktivitas di dekat lokasi transfer depo sampah maupun tempat pembuangan sementara (TPS) sampah mulai mengeluh. Tumpukan sampah mengeluarkan bau busuk, dan dikhawatirkan penyakit akan menyerang warga.

Pantauan Suara NTB, sejak penutupan sementara TPA Regional Kebon Kongok akibat kebakaran sampah di TPS maupun transfer depo seperti di Jalan TGH. Faisal, Kelurahan Mandalika, transfer depo Lawata di Kelurahan Dasan Agung Baru, TPS Pagutan Barat, Karang Baru serta titik lainnya tak diangkut. Semakin hari volume terus bertambah bahkan meluber ke pinggir jalan.

Suryadi, tukang parkir di salah satu gerai di Gomong merasa tidak nyaman bekerja akibat bau busuk dari tumpukan sampah di transfer depo. Dia terpaksa harus menggunakan masker untuk memarkirkan kendaraan pengunjung berbelanja.

Tidak saja dirinya, pelanggan juga mengeluhkan bau dari sampah yang tidak pernah diangkut sejak penutupan TPA Regional Kebon Kongok. “Terganggu sekali. Beberapa hari ini sudah baunya menyengat,” katanya ditemui, Jumat, 18 Oktober 2019.

Baca juga:  Ribuan Orang Terpapar Asap Kebakaran TPA Kebon Kongok

Kondisi ini tidak seperti biasanya. Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram setiap hari mengangkut sampah dan membuangnya ke TPA. Tak jarang aku Suryadi, aroma tidak sedap dari

tumpukan sampah dikomplain oleh masyarakat. Terutama pedagang yang menjual makanan. “Ndak mau orang belanja karena ndak tahan,” ucapnya.

Keluhan sama juga disampaikan Siti Zahrah. Dia mengaku, ada penurunan omset dari penjualan nasi bungkus miliknya. Sehari, ia membawa 150 bungkus nasi dan 50 kotak salad buah selalu habis. Sejak bau sampah ini keluar pelanggannya enggan untuk mampir.

“Ini ganggu penjualan. Kalau langganan yang senang masakan saya mau ndak mau berhenti. Yang tidak tahan bau sampah ndak mau mampir,” keluhnya. Dia mengharapkan, tumpukan sampah tersebut segera diangkut oleh petugas. Bau busuk ini dikhawatirkan menimbulkan penyakit bagi masyarakat.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Rasa kecewa dirasakan operator sampah Lingkungan Taman Seruni, Saefuddin. Selama penutupan TPA Kebon Kongok, ia tidak bisa membuang sampah ke transfer depo di Lawata. Di satu sisi, masyarakat mengkomplain karena tidak pernah datang mengangkut sampah di lingkungan.

“Ini saya mau buang sampah ndak di kasi. Warga di lingkungan terus komplain ke saya,” tandasnya.

Sementara menunggu TPA Kebon Kongok dibuka kembali, ia diminta membuang sampah ke TPA darurat di Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara. TPA darurat juga dikeluhkan karena lokasinya cukup jauh dari lingkungan. (cem)