Lingkungan Kumuh di Mataram akan Didesain Ulang

Kondisi Sungai Jangkuk, Rabu, 16 Oktober 2019. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan DAS Jangkuk yang akan ditata kembali demi mengurangi jumlah wilayah kumuh di Mataram. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Lima lingkugan kumuh di kota Mataram didesain ulang  sesuai dengan program Kotaku. Ke lima lingkungan tersebut ialah lingkungan Pengempel, Gontoran, Jangkuk, Tegal, dan Monjok.

Dikonfirmasi Suara NTB, Asisten Perencanaan Satuan Kerja Infrastruktur Berbasis Mayarakat dari Kementerian PUPR RI, Zubaidi mengatakan, program Kotaku ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemukiman kumuh. “Program Kotaku ini mengubah kawasan kumuh menjadi tidak kumuh lagi,” katanya, Rabu, 16 Oktober 2019.

Program Kotaku yang yang bekerjasama dengan World Bank (bank dunia) kata Zubaidi, tidak semata-mata penanganan pascabencana. “Program ini terkait perbaikan kualitas pemukiman kumuh. Alokasi dananya memang sedang proses dokumen perencanaan. Jadi belum dipastikan alokasinya berapa,” katanya.

Lokasi yang akan ditata kata Zubaidi, itu terdapat di DAS (daerah aliran sungai) di Sungai Jangkuk. “DAS Jangkuk akan ditata, persiapannya sudah berjalan. Penyiapan lahannya oleh Pemkot Mataram. Setelah lokasinya siap baru kita akan lelang kegiatan ini,” kata Zubaidi.

Baca juga:  Pemkot Wacanakan Bangun TPA Sendiri

Untuk kawasan DAS Jangkuk, anggaran yang dibutuhkan di atas Rp10 miliar. Ada pun untuk persiapan perencanaan dan proses lelangnya, dilakukan tahun depan.

“Dari 10 provinsi di Indonesia, NTB yang di dalamnya ada Pemkot Mataram termasuk dalam program Kotaku yang bisa melakukan pengelolaan dampak sosial masyarakat dengan baik,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Kotaku Kota Mataram, Hariati menjelaskan,

program Kotaku merupakan pengurangan jumlah kawasan kumuh di Mataram. Dari 303,57 hektar kawasan kumuh di Mataram tahun 2018 sudah menurun jadi 97,82 hektar.

“Untuk tahun ini kita belum tahu berapa jumlahnya. Yang jelas penurunan itu bisa  dipicu dengan sanitasi yang baik. Selama ini kan sanitasi kita sangat buruk. Warga kota Mataram juga masih membuang limbah padat di saluran,” katanya.

Dampak pencemaran air di lingkungan Mataram, kata Hartati, Pemkot Mataram sudah menyusun DED (detail engineering design) yang disusun dan diserahkan ke satker PKP (satuan kerja pengembangan kawasan pemukiman) Pemprov NTB.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

“Sumber anggarannya memang belum jelas, akan tetapi DFAT (departmen of foreign affairs) yang merupakan lembaga CSR World Bank siap mendanai sebesar Rp14 miliar,” katanya.

“Itu juga di lingkungan Pengempel, ada di Gontoran, di Jangkuk, Tegal sama Monjok, lima lingkungan masih terdampak masif. Tergantung kesiapan kita melakukan pra desain yang bagus,” lanjut Hartati.

Untuk pengerjaan DAS Jangkuk, lanjut Hartati, akan dilakukan sepanjang 920 meter dengan lebar 6 meter.

“DAS Jangkuk ini harus ada pra desain terlebih dahulu. Kemudian baru dilelang. Ini juga sudah mendapat persetujuan atau NOL (number objektif letter) di bank dunia untuk segera dilelang. DAS Jangkuk ini juga meliputi kelurahan Kebun Sari, Pejeruk, dan Ampenan tengah,” katanya. (viq)