Pemkot Berencana Siapkan TPS di Bantaran Sungai Jangkuk

Seorang warga melintas di antara tanaman kangkung yang dibudidayakan masyarakat sekitar sungai Jangkuk, Selasa, 15 Oktober 2019. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot berencana akan membuat tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di sepanjang bantaran sungai Jangkuk. Pemkot tidak ingin masyarakat sekitar sungai akan membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan sedimentasi dan akibat buruk lainnya terhadap masyarakat yang memanfaatkan sungai.

Namun lemahnya edukasi baik dari lurah, camat, hingga Pemerintah Kota Mataram ke semua pihak membuat kondisi sungai Jangkuk Mataram dari tahun ke tahun semakin buruk. Maka, Pemkot perlu intens mengedukasi ke semua pihak agar proses normalisasai sungai Jangkuk dapat berlangsung cepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Irwan Rahadi mengatakan, dengan memperbanyak edukasi ke masyarakat, kelurahan dan kecamatan, kiranya dapat mempercepat proses normalisasi kondisi sungai Jangkuk Mataram. “Saya rasa kita akan perbanyak penyadaran itu di camat, lurah, dan masyarakat.Ini kan pada tahap penyadaran saja. Edukasi dan sosialisasi itu sudah kita lakukan setiap hari,” imbuh Irwan kepada Suara NTB, Selasa, 15 Oktober 2019.

Target normalisasi sungai Jangkuk lanjut Irwan, DLH kerap mengadakan kegiatan pembersihan di area Sungai Jangkuk.  Sosialisasi itu kata Irwan, untuk mengedukasi masyarakat agar jangan buang sampah (di Sungai Jangkuk) harus terus dikakukan. “Juga ke depan kita mau menyiapkan pewadahan (TPS) di sepanjang bantaran sungai itu,” kata Irwan.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

“Termasuk di dalamnya. Ada pengadaan (Sarpras) itu untuk tahun depan, kita bermitra ke setiap kelurahan. Nanti lewat anggaran kelurahan, kita prioritaskan dan kita arahkan ke sana,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Lurah Dasan Agung, Hambali menegaskan, memang kelurahan pernah canangkan pada anggota Karang

Taruna (KT) untuk mengedukasi masyarakat agar Sungai Jangkuk kembali normal. Salah satunya, KT di kelurahan mempunyai satgas dari KT yang memantau pembuang sampah di Sungai Jangkuk.

“Satgas itu dari KT. Masing-masing lingkungan punya satgas KT. Itu semua merupakan kegiatan KT di masing-masing lingkungan. Dan kegiatan itu berkelanjutan,” paparnya.

Akan tetapi lanjut Hambali, pasca gempa kemarin, banyak rumah di kelurahan Dasan Agung yang melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) membuang material bekas rehab-rekonnyake bantaran Sungai Jangkuk. Hal itu dilakukan warga karena tidak memiliki tempat membuang bekas bongkaran rumah rehab-rekon tersebut. “Tapi kan, berkali-kali kita antisipasi ini. Tapi tetap dilakukan warga,” kata dia.

Baca juga:  Ribuan Orang Terpapar Asap Kebakaran TPA Kebon Kongok

“Kita memang sudah beritahukan kepada Kaling dan RT untuk jangan dibuang ke bantaran sungai, tapi mereka kebingungan dan kesulitan di sini. Ternyata warga tetap membuang ke sana. Mungkin karena biaya angkut material juga kan, kita tidak tahu ke mana dibuang,” papar Hambali.

Mengenai pembersihan sungai, Hambali menilai, Pemkot dan semua pihak harus memiliki manajemen yang baik. Kelurahan Dasan Agung akan meminta kepada kelompok peduli sungai untuk melakukan komunikasi dengan pihak BWS (balai wilayah sungai) dari Dinas PUPR  Kota Mataram.

“Selama ini belum berjalan, memang masih terbentur dengan anggaran. Tidak bisa kita berbuat kalau tidak didukung oleh pemerintah,” kata Hambali. Ia pun berharap, dengan membangun komunikasi dengan BWS terkait apa bentuk strategi penanganan itu, serta bagaimana langkah yang akan ditempuh kelurahan untuk normalisasi sungai Jangkuk. (viq)