Realisasi Retribusi Parkir di Kota Mataram Masih Rendah

Juru parkir sedang mengatur kendaraan yang hendak keluar dari salah satu bank di Jalan Pejanggik, Cakranegara, Senin, 14 Oktober 2019. Realisasi parkir tepi jalan umum memasuki pertengahan Oktober baru mencapai 28 persen. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perhubungan Kota Mataram agaknya perlu mengeratkan ikat pinggang. Pasalnya, realiasasi retribusi parkir tepi jalan umum masih rendah atau mencapai 28 persen dari target Rp5 miliar.

Rendahnya serapan retribusi disampaikan Kepala Dinas Perhubungan, Drs. M. Saleh dikonfirmasi baru – baru ini, tidak maksimalnya menutupi kebocoran – kebocoran parkir di Kota Mataram. Hal ini perlu dimaklumi karena pihaknya baru memulai mengubah sistem di internal. Dan, berjanji mulai tahun depan potensi parkir tepi jalan umum akan digarap maksimal. “Iya, serapan kita masih rendah. Baru 28 persen,”sebut Saleh.

Potensi parkir tepi jalan umum dilihat sangat menjanjikan. Bahkan, ia menghitung potensi itu bisa mencapai Rp15 miliar. Jika digarap maksimal 30 persen potensi tersebut bisa menjadi pendapatan asli daerah (PAD). Sisanya, 70 persen akan menjadi milik juru parkir.

Memaksimalkan pendapatan itu kata Saleh, salah satunya dengan mengubah pola atau

sistem di jukir itu sendiri. Nantinya, karcis parkir akan dijadikan sebagai dokumen berharga.

Praktik selama ini, jukir diharapkan memberikan karcis ke konsumen sangat sulit. Dengan pola baru itu, konsumen yang akan merobekkan karcis dan menyerahkan ke jukir. “Kita mau ubah polanya dulu. Kalau sudah begitu potensi yang akan kita hasilkan lebih besar,” terangnya.

Masyarakat cukup membeli karcis di konter atau gerai pasar modern sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari hasil penjualan itu langsung masuk ke kas daerah. Sistem seperti ini sebenarnya telah diamanatkan dalam peraturan daerah. Di mana, pendapatan dari retribusi parkir tepi jalan umum dalam bentuk bruto.

Hasil penjualan akan dibagi 30 persen masuk ke kas daerah dan 70 persen dikembalikan ke jukir. Penerapan pola itu diyakini akan lebih memaksimalkan pendapatan dari retribusi parkir. Karena itu, UPTD Perparkiran perlu digenjot untuk berinovasi. Disamping rutin menertibkan parkir – parkir liar di sejumlah titik. (cem)