Sepekan, 11 Pengemis Dirazia

Amaq Lipi diamankan Disos Kota Mataram saat mengemis di Gomong Mataram, Selasa, 17 September 2019. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Dalam sepekan terakhir, Dinas Sosial Kota Mataram mengamankan 11 pengemis yang berasal dari luar Kota Mataram. Baik dari Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Timur.

Kepala Seksi Bidang Lansia dan Anak Dinas Sosia Kota Mataram, Ridho mengaku pihaknya mengamankan lansia dan anak-anak telantar yang kerap mengemis ke Kota Mataram. “Dalam sepekan ini sudah 11 pengemis yang kita amankan. Semua pengemis itu bukan dari kota Mataram,” jelas Ridho kepada Suara NTB, Rabu, 18 September 2019 usai razia pengemis di Gomong Mataram.

Selama ini, jelas Ridho, Mataram dianggap seksi bagi para pengemis sebagai tempat meminta-minta. Contohnya Amaq Lipi. “Amaq Lipi ini sudah tiga kali kita tangkap. Tapi dia datang lagi-datang lagi,” jelas Ridho.

Baca juga:  Razia Pekat Temukan Pasangan Hamil di Luar Nikah

Amaq Lipi asal Lajut Lombok Tengah ditangkap Disos, Selasa (17/9) kemarin di Gomong tersebut. Amaq Lipi mengaku kerap datang ke Kota Mataram untuk mengemis lantaran tidak ada biaya untuk menghidupi keluarganya. Amaq Lipi memiliki tujuh orang anak.

Amaq Lipi dating ke Mataram menggunakan angkot dari Praya Lombok Tengah. “Saya naik angkot ke Kota Mataram, sampai di sini tidak ada keluarga tempat tinggal. Saya sering tidur di masjid dan ruko. Uang ngemis Rp130 ribu yang saya dapat ini untuk biaya anak sekolah dan kasi makan istri,” jelas Amaq Lipi, Selasa (17/9) kemarin.

Secara terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Hj. Baiq Asnayati mengaku, dalam sehari, Disos Kota Mataram melakukan penyisiran tiga kali. Mereka yang tertangkap akan dikembalikan kepada keluarganya jika berasal dari Kota Mataram.

Baca juga:  Razia Pekat Temukan Pasangan Hamil di Luar Nikah

“Tapi kalau dari luar Kota Mataram yang masih bisa kita jangkau, kita masih bisa tanya alamatnya, biasanya kita antar ke mobil-mobil (angkot) tujuannya itu, kalau tidak juga kita koordinasi dengan provinsi yang menyelesaikan karena ini kan lintas kabupaten,” terang Asnayati.

Sementara ini, belum ada kesepakatan bersama dalam mengatasi pengemis di Kota Mataram bersama daerah kabupaten lainnya. “Sebisa mungkin kita kembalikan ke keluraganya, dibuatkan pernyataan, kalau tidak biasanya Disos kota Mataram berkoordonasi dengan Disos (daerahnya), kita foto, kita minta tolong untuk dibina,” demikian Asnayati. (viq)