Misteri Perusak Pot Bunga di Lingkar Selatan akan Diusut Tuntas

Pot bunga di ruas jalan bebas hambatan di Sekarbela menuju Lobar, yang dirusak oknum tak bertanggung jawab. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Kasus perusakan pot bunga di ruas jalan bebas hambatan menuju Lombok Barat (Lobar) akan diusut tuntas oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram. Perkim juga telah melaporkan hal itu kepada Polsek, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Camat Sekarbela Kota Mataram.

Kepala Dinas Perkim Kota Mataram, H. M Kemal Islam mengatakan, perusakan pot bunga tersebut terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 01:00 wita. Ia mengatakan, apa pun alasannya, perbuatan tersebut merupakan bentuk orang yang tidak bertanggungjawab dan menghina Pemkot Mataram.

“Kita kutuk saja pelakunya, mudah-mudahan dia dan keluarganya akan lebih parah mendapatkan masalah,” kata Kemal, sapaannya saat dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 12 September 2019.

Saat ini Disperkim akan meminta kepada pihak kecamatan setempat (Sekarbela) dan Kapolsek, Satpol PP Mataram untuk mengusut tuntas siapa pelaku dari perusakan pot bunga tersebut.

“Kalau ketemu pelakunya, kita serahkan ke pihak kepolisian, karena itu tindakan kriminal. Jelas itu, di samping tindakan kriminal, itu termasuk penghinaan kepada Pemkot dan masyarakat kota Mataram. Siapa pun pelakunya, nanti kita akan lakukan penindakan secara tegas,” tegasnya.

Menanggapi kasus perusakan pot bunga tersebut, Kepala Satpol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati menjelaskan, selama ini Satpol PP sudah memberikan batasan waktu kepada para PKL (pedagang kaki lima) terkait sampai kapan bisa menggelar dagangannya di jalan bypass tersebut.

“Kita sudah terapkan batasan waktu tapi masih ada saja yang melanggar, masih ada yang buka. Kalau ditindak, macam-macam lagi laporannya. Kita tegaskan semua APKLI (asosiasi pedagang kaki lima Indonesia) jangan lagi ada yang berjualan lewat dari jam 11:00 malam di areal itu,” terang Bayu.

Bayu menilai, selama ini Satpol PP bukan hanya memantau keamanan, kerap juga memantau para PKL untuk melakukan pengawasan.

“Kita kan tugasnya memantau untuk keamanan saja, bukan mengawasi apa yang mereka lakukan (PKL) dan para pengunjung di sana,” jelas Bayu.

Selama ini, pada ruas jalan bypass yang menuju ke Lombok Barat tersebut, kerap dipenuhi dengan remaja yang kumpul-kumpul. Menurut Bayu, hal ini sangat rentan terjadi keributan. Selama melakukan pemantauan, Kasat Pol PP ini pun tak memungkiri, jalan bypass tersebut kerap juga dijadikan area balap liar dari remaja yang datang dari berbagai penjuru.

“Mungkin karena dia kalah taruhan (balap liar), makanya ditendanglah pot itu. Saya kadang-kadang jengkel melihat kenakalan anak muda kita sekarang ini, mereka kerap merusak. Itu biaya mahal yang dikeluarkan pemerintah,” jelasnya.

Camat Sekarbela, Cahya Samudra sangat menyayangkan hal itu terjadi. Untuk kedua kalinya, tindakan serupa kembali terjadi dengan model perusakan yang sama. “Iya, sangat menyayangkan kejadian ini, artinya semua pihak harus menjaga keindahan, menjaga barang barang milik negara,” kata Cahya.

Untuk jumlah pot yang rusak, Cahya belum mengetahui jumlah pasti berapa yang dirusak. “Yang jelas lebih dari 6 pot bunga. Tapi jumlah pasti kami belum mengetahui, datanya ada di Disperkim, ada sebagian yang tidak rusak dan bisa dinaikkan kembali (ke atas trotoar),” terangnya.

Saat ini, pihak kecamatan dan Kapolsek Mataram tengah memburu pelaku perusakan pot bunga tersebut bersama semua Kepala Lingkungan (Kaling) Kepala Kelurahan dan masyarakat di Sekarbela. Cahya pun sudah menginstruksikan kepada seluruh Kaling untuk mencari tahu siapa dalang di balik kejadian tersebut.

“Kita sudah imbau kepada semua Kaling, Kelurahan dan masyarakat. Kita sedang mecari pelakukan ini, Jika ditemukan, kita akan proses hukum,” tegasnya.

“Jangan sampai  melebar masalah ini. Kami sangat menyayangkan atas perusakan ini,” katanya.  Nantinya, pihak kecamatan Sekarbela bersama ketua APKLI akan meminta kepedulian dari PKL-PKL yang berjualan di area tersebut untuk ikut menjaga kondisi pot bunga dan taman.

“Itulah bentuk kontribusi mereka PKL ini. Sementara boleh berjualan di malam hari, kami minta tolong untuk  ikut patroli, kita himbau PKLnya. Kita dengan polsek juga sering periksa, untuk kita sisir ke jalan. Kita harap jangan ada lagi yang trek-trekan (balap liar, red). Kita akan pantau terus,” tutup Cahya. (viq)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.