Lahan Pertanian di Mataram Kian Menyempit

Salah satu lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) seluas 409 hektar di Karang Pule Mataram. Pemkot tidak akan memberikan izin mendirikan bangunan untuk perdagangan dan sejenisnya di atas lahan tersebut. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Seluas 509 hektar lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) Kota Mataram mendapat perhatian penuh dari Dinas Pertanian Kota Mataram. Karenanya para petani di kota ini dituntut untuk segera beralih ke urban farming.

Dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 12 Agustus 2019,  Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli menyampaikan, kegiatan pertanian tidak akan hilang selama para petani di Kota Mataram segera beralih ke urban farming.

“Kita lihat, Surabaya dan Jakarta yang begitu padat kan tetap punya Dinas Pertanian. Kota Mataram akan mengarah menjadi urban farming. Sekarang Mataram sedang mengarah ke sana. Iya, jadi tidak lagi mengurus pangan tadi,” kata Mutawalli.

Dikatakan, saat ini masyarakat kota Mataram yang ingin menjadi petani dan tidak meiliki lahan yang  lahan luas tak perlu khawatir. “Saatnya sudah kita gunakan hidroponik atau agro yang merupakan bagian dari urban farming,” katanya.

LP2B yang tersisa 509 hektar ungkap Mutawalli, tidak akan digunakan lagi untuk membangun perumahan ataupun lainnya. “Kita akan jaga sebisa mungkin. Selain lahan 509 hektar tadi. Masyarakat juga bisa menanam di pekarangan rumahnya,” katanya.

Dari sisa lahan pertanian di Kota Mataram, fungsi Distan tetap sama.  509 hektar tadi, akan menjadi fokus Distan dalam mengolah lahan agar lebih produktif. Masalah lain yang dihadapi petani saat ini kata Mutawalli, para petani di kota Mataram saat ini membutuhkan perhatian dalam pengelolaan sisa lahan yang 509 hektar, baik air, pupuk, dan bahan pertanian lainnya.

“Kalau masalah air baku untuk pertanian di kota Mataram masih aman,” katanya.

Distan sendiri kata Mutawalli, telah menyiapkan beberapa sumur untuk menghadapi musim kering di lahan LP2B yang tersisa. Terkait pencemaran air, Distan akan melakukan pengecekan di lapangan.” Kita akan tinjau dulu apakah sawah di Mataram tercemar atau tidak,” jelasnya. (viq)