Viral, Papuq Sahnun Si Pemulung Dermawan Berkurban Sapi

Papuq Sahnun membawa sampah yang dipungutnya dari berbagai tempat di samping Mataram Mall.(Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Keterbatasan harta tidak membuat Papuq Sahnun menyerah dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Profesi Papuq Sahnun yang terbilang serabutan menjadi pemulung di Kota Mataram tak mengendorkan niatnya untuk berkurban.

Di usianya yang berumur lebih dari setengah abad, Papuq Sahnun rela berpanas-panasan menyusuri jalan, toko, emperan, dan ruko-ruko untuk mencari botol plastik bekas untuk dijual kepada pengepul.

Selama puluhan tahun menjadi pemulung, ia dikenal sangat rendah hati oleh masyarakat yang ada di Sekitaran Monjok Mataram.

Setiap pagi, ia membawa karung untuk mencari botol plastik hingga malam hari. Selama ini dia tinggal di samping Warung yang ada di samping Mataram Mall. Papuq Sahnun sendiri, tahun ini telah mengumpulkan uang sebanyak 10 juta untuk membeli sapi yang siap dikurbankan pada saat Idul Adha mendatang.

Lambat laun, Kedermawanan Papuq Sahnun ini mulai tersebar luas alias viral. Kabar tentang dirinya bahkan telah diposting di akun instagram Inside Lombok. Hingga berita ini ditulis, kabar tentang Papuq Sahnun yang berkurban sapi ini telah disukai oleh 21.569 pengguna instagram.

Rehan, salah seorang pedagang yang menampung Papuq Sahnun selama bertahun-tahun, menuturkan bagaimana kegigihan Papuq Sahnun dalam hidupnya. Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya. “Dia memang orang yang gigih dalam bekerja sebagai pemulung. Sangat jarang menerima sedekah dari orang lain,” katanya.

Ditemui Suara NTB saat memungut botol bekas di sekitaran jalan depan Mataram Mall, Papuq Sahnun mengungkapkan telah lama ingin berkurban. Selama 10 tahun, ia selalu mengumpulkan hasil jual botol plastik bekas untuk membeli sapi.

“Ini sudah kerjaan saya. Selagi masih mampu, kenapa tidak?” katanya kepada Suara NTB, Rabu, 31 Juli 2019 saat memungut botol bekas di pinggir jalan Pejanggik Mataram.

“Tidak pernah ingin menjadi pemulung, tapi niat saya untuk terus berkurban setiap Idul Adha itu pasti ada. Itu pun kalau ada rizki,” lanjutnya.

Papuq Sahnun yang telah lama merantau ke Mataram dari Desa Kumbung Narmada ini memberikan semangat kepada masyarakat di Kota Mataram untuk terus saling berbagai.

Pada tahun 2015 lalu, Papuq Sahnun telah menyumbang sebanyak Rp5 juta ke salah satu masjid yang ada di Mataram. Pada tahun 2018 lalu, Papuq Sahnun juga telah menyumbang kambing untuk disembelih pada Idul Adha sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.

Terakhir, pada tahun 2019 ini, kesempatan Papuq Sahnun untuk menyumbang satu ekor sapi senilai 10 juta menjadi kenyataan.

“Alhamdulillah saya bisa meneruskan niat saya untuk menyembelih seekor sapi. Niat ini sudah lama saya inginkan,” kata dia.

Padahal, Papuq Sahnun per harinya hanya mampu mengumpulkan satu karung botol bekas. Botol bekas yang dikumpulkan Papuq Sahnun dijual seharga Rp10 ribu sampai dengan Rp15 ribu. Kadang, kata Imam salah seorang tukang parkir yang kerap melihat Papuq Sahnun itu, ia selalu diberikan uang saat memungut botol plastik, tapi Papuq Sahnun kerap menolak pemberian tersebut.

“Kalau ada yang kasian ke dia, kadang dikasi uang sama jajan,” kata Imam.

Papuq Sahnun yang tinggal di Monjok ini membuat para warga sekitar Mataram tercengang. Keterbatasan tidak membuatnya lemah dalam mencari nafkah. Papuq Sahnun adalah wujud nyata bahwa seseorang tetap bisa membantu sesama di tengah keterbatasannya. (viq)