Alat Tangkap Nelayan yang Rusak akan Diganti

Sebuah kapal tanker sedang bersandar di pantai Ampenan, Kamis, 18 Juli 2019. Nelayan Ampenan telah sepakat untuk tidak melepas jaringnya di lintasan kapal yang hendak sandar di pantai Ampenan. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram akan mengganti alat tangkap nelayan Ampenan yang terbukti rusak akibat ditabrak kapal. Dinas Perikanan Kota Mataram siap menindak tegas kapal yang merusak jaring atau perahu nelayan. Namun Dinas Perikanan meminta nelayan agar melaporkan jika ada perusakan jaring dan perahu oleh kapal tanker yang sandar di sekitar pantai Ampenan.

Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram, Hj. Baiq Sujihartini,SE.MM, Kamis, 18 Juli 2019 menyampaikan kepada masyarakat nelayan yang alat tangkapnya rusak karena ditabrak kapal tanker agar segera melapor. “Saya belum menerima laporan dari masyarakat, kepala lingkungan, maupun dari kelurahan yang ada di pesisir pantai Ampenan,” tuturnya. Ia mengingatkan kepada masyarakat juga terkait jalur-jalur mana yang dilewati kapal tanker  yang mengangkut minyak tersebut.

Dinas Perikanan Kota Mataram melepas 24 petugas penyuluhan yang mengawasi terkait pantauan aktivitas jalur kapal tanker dan nelayan yang ada di pesisir Pantai Ampenan. Jika ada keluhan terkait permasalahan tersebut, Sujihartini siap dan sigap untuk mengusut tuntas hal tersebut. “Silakan lapor ke kita, kita juga punya 24 orang penyuluh yang siap mendampingi masyarakat nelayan yang ada di sana untuk melapor,” tukasnya.

Jika pun ditemukan ada alat tangkap yang rusak akibat kapal tanker, nelayan akan diberikan bantuan baik berupa jaring ikan atau pun perahu. Dia menghimbau agar masyarakat nelayan di pesisir pantai Ampenan untuk selalu mematuhi aturan yang ada. “Kita kasian juga jika itu terjadi kepada nelayan kita. Tapi kalau menyalahi aturan kita tidak bisa berbuat apa-apa?” imbuhnya.

Jika ada perusakan lagi, ungkapnya, ia menghimbau masyarakat membuat prosedur lapor. “Silakan buat surat aduan serta lampirkan foto kepada kepala kelurahan. Nanti sampikan ke kita terkait jaring atau kapal yang rusak agar kita verifikasi langsung ke lapangan,” ujarnya.

Aldi (39), salah satu nelayan yang mengaku pernah mengalami perusakan jaring akibat ditabrak kapal, merasa senang mendengar pernyataan dari pihak pemerintah akan hal tersebut. Menurutnya, jika sudah ada instruksi dari dinas terkait, ia siap melapor jika itu terjadi lagi pada jaring atau kapalnya. “Tapi untuk saat ini, alhamdulillah saya tidak pernah mengalami kurasakan lagi akibat ditabrak kapal tanker,’’ tuturnya saat ditemui di pesisir Pantai Ampenan.

Lurah Bintaro, Lalu Issugiono menghimbau kepada seluruh nelayan agar mematuhi aturan yang ada. Ia menilai, selama ini yang terjadi, masyarakat kerap ngeyel dan enggan mengikuti perintah dari pemerintah terkiat jalur nelayan. “Padahal sudah ada jalur yang disipakan dan dilarang untuk nelayan, namun yang kerap terjadi kan, dia (nelayan, red) suka menjaring ikan di jalur kapal tanker. Iya jelas akan kena imbasnya,” tandasnya. (viq)