Lahan Pertanian Terus Menyusut

Buruh tani di Kelurahan Jempong Baru menggiling padi menggunakan alat seadanya belum lama ini. Lahan pertanian di Kota Mataram semakin menyusut. Berkurangnya lahan pertanian dikhawatirkan mengganggu produksi padi. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pertanian Kota Mataram mengkhawatirkan produksi pertanian (padi) semakin menyusut. Hal ini dipicu semakin menyempitnya lahan pertanian, sehingga target produksi pun sulit terdongkrak.

Produksi padi tahun 2017 lalu ditargetkan oleh pemerintah pusat 30 ton per tahun. Target ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli, pernah diminta diturunkan karena kondisi lahan yang semakin menyempit. Namun demikian, permintaan itu tidak diamini.

Nantinya, jika produksi pertanian terutama hasil panen padi tidak tercapai tahun 2019, penyempitan lahan pertanian karena  desakan pembangunan property bisa menjadi alasan Pemkot Mataram. “Dalam catatan, itu akan kita sampaikan,” kata Mutawalli dikonfirmasi, Selasa, 25 Juni 2019.

Secara matematis dari luas tanam satu hektar produksi padi dihasilkan mencapai 6 ton. Jika per tahun lahan pertanian tergerus oleh alih fungsi lahan sekitar 100 hektar, maka

600 ton produksi padi di Kota Mataram menyusut.

Kondisi saat ini, luas lahan pertanian masih 1.547 hektar. Pun, mengalami penyusutan diperkirakan produksi padi turun menjadi 28 ribu ton per tahun. “Tetapi Alhamdulillah, tahun 2018 lalu target kita tercapai. Bahkan, kita tertinggi tingkat NTB,” sebutnya. Penyempitan lahan tak dipungkiri tiap tahun terjadi. Apalagi pasca revisi Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Mataram, telah disahkan.

Terhadap perkiraan cuaca diprediksi 60 hari ke depan akan mengalami kekeringan. Mutawalli mengatakan, ancaman kekeringan telah diantisipasi dengan pengadaan sumur dangkal di 30 hingga 40 kelompok tani di Kota Mataram. Kawasan di Lingkar Utara seperti Ampenan, Sayang-sayanng dan Rembiga jadi kawasan rawan mengalami kekeringan.

Meski demikian, sepanjang ini tidak pernah ada gagal panen karena petani terbantu keberadaan sumur bor. “Tahun lalu tidak ada yang gagal. Kita bantu dengan sumur bor dangkal tersebar di sejumlah titik,” tambahnya. (cem)