Satpol PP Sidak Warung Makan

Warga ditemukan bersembunyi sedang asyik makan di dalam warung di Jalan Ismail Marzuki, Lingkungan Karang Tapen saat dilakukan penertiban oleh Satpol PP Kota Mataram. Petugas hanya menegur pedagang tanpa memberi efek jera. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Satpol PP Kota Mataram benar – benar dikibuli. Sejumlah pemilik warung makan masih membandel dengan buka dan melayani pembeli di tempat. Petugas menemukan warga bersembunyi makan di dalam warung.

Pantauan Suara NTB, penertiban warung makan dimulai sekitar pukul 11.00 Wita. Dua lokasi menjadi incaran Satpol PP Kota Mataram diback up Satpol PP NTB dan Dinas Perhubungan.  Yakni, Jalan Peresean Kelurahan Pejanggik dan Jalan Ismail Marzuki, Lingkungan Karang Tapen, Kelurahan Cilinaya.

Di Jalan Peresean, pedagang cukup kooperatif melayani pembeli dengan cara take away atau makanan dibungkus. Hanya saja, pemilik warung makan secara terbuka menampilkan menu makanan mereka. Padahal telah dilarang sesuai surat edaran Walikota Mataram.

Berbeda halnya warung di Jalan Ismail Marzuki. Pedagang tetap melayani pembeli dan bahkan memanfaatkan jasa juru parkir memanggil pengendara untuk mampir makan. Kedatangan petugas cukup membuat pedagang panik dan berlari menghindari petugas. Pemilik warung segera menggembok warung miliknya dan kabur begitu saja.

Aparat penegak Perda tak kehabisan akal. Warung makan satu persatu diperiksa. Alhasil ditemukan sejumlah warga asyik menyantap makanan di dalam warung. Kasat Pol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati menegaskan, penertiban kali ini melibatkan Satpol PP NTB dan Dinas Perhubungan Kota Mataram. Sebab, pemilik warung makan tetap membandel melayani pembeli. Padahal, mereka sudah berulangkali diberikan peringatan.

“Sudah saya perintahkan anggota mengangkut barang milik pedagang yang masih bandel,” tegas Bayu, Rabu (15/5). Faktanya petugas yang menemukan pelanggaran justru tidak melakukan tindakan tegas sesuai perintah pimpinannya. Bayu berkilah upaya persuasif memang kembali dilakukan karena permintaan Satpol PP NTB yang baru bergabung dalam penertiban.

Penertiban ke depannya tak ada toleransi lagi bagi pedagang atau pemilik warung makan yang membandel. Pedagang di Jalan Ismail Marzuki setiap tahun menjadi masalah. Mereka tidak pernah mengikuti aturan dikeluarkan pemerintah meski telah diberikan kelonggaran. Ketidaktaatan pedagang ini Pol PP mengambil sikap dengan mengelurkan rekomendasi ke Dinas Perdagangan untuk mengevaluasi pedagang di sana.

“Karena setiap tahun jadi masalah dan lokasi juga membuat sempit arus lalu lintas. Semakin lama marwah pedagang kaki limanya hilang berganti menjadi warung permanen,” tambahnya. Ani, pemilik warung di Jalan Peresan mengaku, sudah dua kali mendapat teguran dari petugas. Ia bersama pedagang lainnya dianggap secara demonstratif berjualan sehingga mengganggu masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Tahun lalu ada imbauan dikasih. Tahun ini kok ndak ada,” tuturnya. Dari peringatan pertama, Ani tak lagi berani melayani pembeli untuk makan di tempat. Polanya, pembeli memesan makanan untuk dibawa pulang. Cara ini sebagai alternatif agar aktivfitas usaha mereka tetap berjalan dan tidak lagi kena tegur petugas. (cem)