Pembangunan Terowongan Monumen Lingkar Selatan Ditunda

Mahmuddin Tura (Suara NTBV/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram menunda pembangunan terowongan (underpass) Monumen Mataram Metro di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela. Balai Jalan Nasional (BJN) belum memberikan kepastian rekomendasi proyek tersebut, padahal pekerjaan fisik dikejar oleh waktu.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Ir. H. Mahmuddin Tura menyampaikan, kondisi saat ini belum ada informasi dari BJN terkait permintaan ekspose perencanaan teknis pembangunan underpass atau terowongan di bawah monumen. Sebelumnya, telah dijadwalkan ekspose Kamis, 2 Mei 2019 lalu dan konsultan perencana dihadirkan untuk menjelaskan detail proyek tersebut.

“Sampai saat ini belum ada kepastian,” kata Mahmuddin ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/5). Permasalahan ini sambungnya, telah disampaikan ke Walikota H. Ahyar Abduh.  Disarankan, proyek itu segera ditender dengan pertimbangan waktu. Sementara, pembangunan underpass atau terowongan melewati bawah monumen ditunda sembari menunggu kepastian dari BJN.

Baca juga:  Semen Langka, Proyek Pemerintah Terancam Macet

“Pak Wali meminta kita mengerjakan apa yang bisa dikerjakan dulu. Terpaksa underpass kita tunda,” tuturnya. Rekanan hanya mengerjakan underpass di luar jalan mulai dari monumen sampai pinggir bahu jalan hingga gerbang pintu masuk. Sementara itu, ada 20 meter underpass ditunda.

Mahmuddin menambahkan, dokumen proyek senilai Rp11 miliar kemungkinan bulan Mei sudah ditender. Diprediksi awal Juni telah teken kontrak oleh rekanan. Rekanan membutuhkan waktu selama 6 bulan untuk merampungkan pekerjaan.

Baca juga:  TP4D Temukan Proyek Jembatan Nasional Bermasalah

Penunjukan rekanan ini pun harus hati – hati. Bagian Layanan Pengadaan tidak asal menunjuk pemenang tender. Tetapi harus melihat dari segi kemampuan keuangan perusahaan, pengalaman serta peralatan yang dimiliki. “Jadi jangan lihat administrasinya saja. Perlu dilihat juga dari segi bonafit perusahaan,” tegasnya.

Disampaikan Mahmuddin, ada perubahan dari perencanaan awal. Rencananya akan dibangun tempat istirahat atau lahan parkir bagi pengendara yang terkoneksi dengan pembangunan taman hijau. Anggaran Rp11 miliar ternyata tidak cukup. Pagu itu hanya cukup untuk menyelesaikan fisik monumen dan jalan. Pihaknya membutuhkan anggaran sekitar Rp4 miliar hingga Rp5 miliar. Tambahan anggaran kemungkinan diajukan di APBD Perubahan atau menunggu APBD 2020. (cem)