Tender Proyek Monumen Terancam Molor

Tender proyek lanjutan pembangunan monumen di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela ini terancam molor. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) belum menyelesaikan pembahasan teknis terhadap rencana pembangunan under pass (jalan bawah tanah) dengan Balai Jalan Nasional (BJN). Perlu kajian mendalam membangun terowongan di tengah padatnya arus kendaraan. Tender proyek pembangunan monumen senilai Rp11 miliar terancam molor.

Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Miftahurrahman mengaku belum ada finalisasi pembahasan teknis bersama BJN terkait pembangunan terowongan, sebab terowongan atau jalan bawah tanah merupakan bagian dari pembangunan lanjutan monumen.

Dia mengatakan, tender belum bisa dilaksanakan karena harus menunggu rekomendasi atau persetujuan dari BJN. “Belum kita tender,” jawabnya singkat ditemui usai menghadiri rapat paripurna di gedung DPRD Kota Mataram, Selasa (2/4).

Baca juga:  Kontraktor Dermaga Waduruka Terancam Masuk Daftar Hitam

Proyek lanjutan pembangunan monumen kembali dialokasikan Rp11 miliar. Tahap I dan II telah dialokasikan masing – masing Rp1,5 miliar. Tahap III disampaikan Asisten II Setda Kota Mataram, Ir. H. Mahmuddin Tura, harus tuntas. Rekomendasi Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) menyarankan bahwa tahun ini pengerjaan proyek itu harus tuntas.

Dinas PUPR perlu mengkomunikasikan ke BJN untuk pembangunan under pass. “Saran dari Kejaksaan harus tuntas tahun ini,” jawab Mahmuddin.

Baca juga:  Triwulan Kedua, Serapan Anggaran Pemkot Masih Rendah

Struktur utama monumen itu tidak ada masalah. Diutamakan adalah konstruksi di bawah jalan. Karena, ada terowongan, BJN meminta Pemkot Mataram, menghadirkan konsultan mengekspose rencana pembangunan tersebut, sehingga proses pengerjaannya aman. “Program ini didukung oleh BJN. Tinggal permintaan pertemuan khusus saja,” tandasnya.

Terkait perhitungan struktur, Mahmuddin mengatakan sudah sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Artinya, tidak ada permasalahan terkait teknis karena semua struktur menggunakan rangka baja. (cem)