Tujuh Persen Balita di Mataram Mengalami Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, H. Usman Hadi (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Bukan saja masalah gizi buruk, Pemkot Mataram memiliki pekerjaan rumah terhadap penyelesaian kelambanan pertumbuhan bayi atau stunting. Data tahun 2018, tercatat 7,26 persen balita di Kota Mataram mengalami tubuh pendek. Data ini diperoleh dari hasil timbang 176 balita di posyandu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi tak membantah adanya kasus bayi tubuh pendek atau stunting di Mataram. Dari rapat Rikesdas bersama Pemprov NTB, ditemukan ada 33,49 persen bayi di NTB mengalami stunting. Salah satunya, adalah Kota Mataram sebanyak 7,26 persen.

Baca juga:  Kunjungi NTB, Menkes Bahas Stunting hingga Peran Posyandu

Anak berbadan pendek memiliki banyak faktor. Antara lain, pola asupan gizi saat balita, ibu hamil memiliki penyakit anemia, gangguan gizi, kekurangan kalori sehingga memicu anak lahir rendah. Hal ini berpotensi terjadinya gizi buruk, kekurangan gizi bahkan stunting. “Jadi memang ada kasus stunting,” kata Usman ditemui, Selasa, 19 Maret 2019.

Ada juga tambah Usman, bayi memiliki tubuh pendek karena faktor keturunan. Resiko sangat kecil dibandingkan dengan kekurangan asupan gizi dan lainnya. Faktor genetik dapat dilakukan pencegahan.

Baca juga:  Laporan Penanganan Stunting Jadi Syarat Pencairan DD 2020

Untuk mengurangi bayi memiliki badan pendek (stunting), Dikes mulai melaksanakan program di posyandu dengan memberikan makanan tambahan bagi anak dan bayi dan program amaris atau memberi makanan ibu hamil, agar tidak anemia. “Kita sudah mulai berikan makanan tambahan,” tandasnya.

Kasus stunting ini dicegah tidak terlepas dari pola asupan gizi ibu saat melahirkan. Perempuan hamil diingatkan memperhatikan pola asupan gizi. Terlebih mengkonsumsi vitamin agar tidak terjangkit penyakit anemia. Usman pernah menyebutkan, 30 persen perempuan hamil mengalami anemia, sehingga perlu asupan vitamin. (cem)