Warga Pesisir Ampenan Minta Direlokasi

Perahu milik nelayan di Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro Jaya diparkir menutupi jalan. Ini dilakukan oleh nelayan agar perahu mereka tidak diseret oleh gelombang.

Mataram (Suara NTB) – Gelombang pasang yang menerjang kawasan Pantai Ampenan, membuat sebagian besar warga trauma. Masyarakat meminta pemerintah segera merelokasi ke tempat yang lebih aman.

 

Kabul, warga lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro Jaya mengaku, sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Dia bersama warga lainnya tiap tahun menyaksikan keganasan gelombang di Pantai Ampenan. “Kita ndak takut. Karena terbiasa tiap tahun begini,” kata Kabul ditemui, Rabu, 23 Januari 2019.

Gelombang sekitar tiga hingga empat meter terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari. Masyarakat ribut menyelamatkan barang berharga dan perahu miliknya. Termasuk Kabul dan putranya menyandarkan perahunya di trotoar jalan. “Kalau ndak begitu hanyut ke tengah,” ucapnya.

Mesti bertahun – tahun mengalami kejadian sama, Kabul juga merasa tak nyaman. Ia berharap pemerintah merelokasi warga di sekitar pinggir pantai. Syaratnya, rumah yang disediakan tidak jauh dari mata pencahariannya sehari – hari.

Penuturan sama disampaikan Fatmah. Tinggal di rumah sederhana berdekatan langsung dengan bibir pantai, membuatnya terbiasa dengan keganasan gelombang. Namun bukan keselamatan diri yang dipikirkan. Fatmah bersama warga lainnya ramai – ramai menyelamatkan barang berharga agar tak hanyut dibawa gelombang.

“Kita ributnya selamatkan perahu dan perabotan,” tuturnya. Harapan sama juga dilontarkan Fatmah. Ia bersedia direlokasi ke tempat lebih nyaman. Dia tak ingin memasuki bulan Januari hingga Februari harus sibuk melawan ganasnya gelombang. “Mau kita dipindah asal jangan jauh – jauh dari pantai,” pintanya.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Mataram, H. Kemal Islam mengatakan, pemerintah sejak lama berencana merelokasi warga di pinggir pantai. Hanya saja, di tahun 2018, baru bisa membebaskan lahan dua hektar.

Untuk pembangunan rumahnya belum berani dipastikan tahun ini. Proposal yang diajukan ke kementerian terlambat. “Ini sedang kita usulkan apakah bisa tahun ini,” ucapnya.

Pembangunan rumah susun nelayan tambah Kemal, memang tidak jauh dari pantai. Artinya, masyarakat masih tetap bisa beraktivitas seperti semula. Rusunawa nelayan diusulkan dibangun baru satu twin blok dengan 99 kamar. “Kita prioritaskan yang tinggal dibibir pantai,” ucapnya. (cem)