Di Mataram, Masih Ada Warga Tinggal di Kolong Jembatan

Tempat tinggal Sumarlin di bawah kolong Jembatan Ampenan. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Di zaman yang serba modern ini, ternyata masih ada warga yang memilih tinggal di kolong Jembatan. Adalah Sumarlin (52), sudah puluhan tahun tinggal di bawah jembatan Ampenan, Kelurahan Ampenan Tengah, Kota Mataram. Untuk bertahan hidup, ia mengumpulkan barang bekas dan menjadi tukang pijat.

Di bawah kolong jembatan aliran Sungai Jangkuk ini, Sumarlin tinggal sebatang kara. Tempat tinggalnya dibuat dari kayu lapuk dengan alas tidur kardus berkas. Tak ada cahaya listrik. Lampu minyak kecil menemani malamnya yang bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang di atas jembatan.

Baca juga:  NTB Terbitkan Kartu Identitas Anak Yatim Piatu

Untuk makan, Sumarlin memasak menu alakadarnya. Kadang, ada saja warga lainnya yang memberi makanan karena merasa iba. Sumarlin atau akrab disapa Bodak merasa nyaman dan tenang tinggal di bawah kolong jembatan. Meski keluarganya berulangkali memintanya pulang ke rumah.

Bodak tetap memilih sendiri. Jauh dari kemewahan dirasakan orang sekitarnya. “Ndak tentu kapan-kapan saya mau. Sering saya disuruh sama keluarga pulang ke rumah ndak mau,” ujar Sumarlin kepada Suara NTB, Jumat, 18 Januari 2019.

Tinggal di dekat aliran Sungai Jangkok, Sumarlin menghabiskan waktu membersihkan sampah. Satu persatu botol plastik maupun kardus diambil untuk dijual. Penghasilan dari mengumpulkan botol bekas tak seberapa. Sumarlin juga nyambi menjadi tukang pijit keliling. Kemampuannya memijat, membuatnya sering dipanggil.

Baca juga:  Satu Tahun Zul-Rohmi, Pemprov NTB Bagikan KIAP untuk Yatim Piatu

Seberapa pun penghasilnya, ia tetap bersyukur. Cukup buat makan sehari – hari membuatnya tak terlalu berharap banyak. Tak pernah hinggap di benaknya untuk berkumpul dengan keluarganya di Lombok Tengah. Karena, ia lebih nyaman untuk beribadah.

Sumarlin mengaku, selama ini, tak pernah menerima  bantuan dari pemerintah. Tak ada niat untuk meninggalkan tempat tinggalnya yang berukur 2 x 3 meter itu. Sumarlin tetap bertahan di kolong jembatan dengan segala keterbatasan. (mhj)