Warga Mataram Mengeluh, Terlalu Lama Tinggal Tenda

Warga di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais bergotong royong membangun pondasi rumah tinggal. (Suara NTB/mhj)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Lima bulan tinggal di tenda pengungsian cukup melelahkan bagi masyarakat. Kondisi cuaca seperti saat ini, membuat mereka takut. Ketidaknyamanan tinggal di tenda disampaikan Ayuman, warga Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais. Cuaca ekstrem saat ini yakni hujan lebat disertai angin kencang membuatnya takut.

“Walaupun air ndak tapi takut kita datang angin nanti,” keluh Ayuman ditemui Rabu, 2 Januari 2019. Ayuman adalah salah satu dari korban gempa bumi yang rumahnya hancur diguncang gempa Juli 2018 lalu. Kini, rumahnya sedang proses pembangunan. Karena jauh dari sanak keluarga, ia bersama anak serta istrinya memilih tinggal di tenda pengungsian.

Lahan dijadikan tempat pengungsian pun menumpang milik warga. Kepala Lingkungan Pengempel Indah, Sudi Sudarsana mengaku, masih ada sebagian masyarakat yang tinggal di bawah tenda pengungsian. Karena, rumahnya sedang proses pembangunan. Sebaliknya, warga yang rumahnya rampung memilih pindah.

“Sebagian yang belum jadi tetap tenda. Yang rumahnya rampung mereka sudah pindah,” tuturnya. Pembangunan rumah instan sederhana sehat maupun rumah instan konvensional terkendala cuaca. Secara progres rumah yang jadi 10 sampai 60 persen.

Dia bersyukur, masyarakat yang memilih Risa dan Riko telah membentuk Pokmas. “Semua sudah masuk, semua yang dikerjakan ini di bawah Pokmas,” ungkap Sudi. Percepatan pembangunan Risa dan Riko diharapkan bisa dilakukan oleh aplikator. Pemerintah menargetkan Bulan Maret mendatang semua harus selesai.

Sudi menambahkan, sebenarnya bukan hanya tempat tinggal yang dikeluhkan oleh masyarakat. Termasuk kekhawatiran masyarakat kehilangan pekerjaan. Permasalahan itu telah disampaikan ke Pemkot Mataram. Diharapkan, ada solusi. (cem)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.