Angka Kemiskinan Kota Mataram Diprediksi Meningkat

Mataram (Suara NTB) – Angka kemiskinan di Kota Mataram diprediksi meningkat pascagempa. Ini disebabkan aktivitas ekonomi masyarakat khususnya yang terdampak terganggu.

Bencana alam ini, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Isa, ada hubungannya dengan peningkatan kemiskinan. Tetapi sejauh mana peningkatan angka kemiskinan itu tidak bisa diprediksi. Sebab, hasil survei akan keluar pada bulan Maret.

“Untuk melihat besar kecilnya belum bisa dikatakan. Yang jelas ukuran untuk kemiskinan ada di konsumsi baik makanan dan non makanan,” kata Isa.

Perlu juga dilihat kata dia, apakah dampak gempa itu berlangsung sebulan atau dua bulan. Kalau satu atau dua bulan jelas tidak berpengaruh besar. Berbeda jika berlanjut sampai setahun atau lebih.

Isa menggarisbawahi pendapatan dan konsumsi masyarakat. Sebab, agak dikhawatirkan terutama warga yang bekerja di sektor informal terganggu. “Yang jadi tukang juga akan terganggu. Pariwisata seperti hotel dan lain – lain,” ujarnya. Pemerintah harus segera mengintervensi. Terutama memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga:  Percepat Tuntaskan Validasi Data Tambahan Korban Gempa

Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram, H. Muhir melihat Dinas Perdagangan harus segera memenuhi kebutuhan masyarakat. Terutama stok makanan dan barang. Situasi seperti saat ini, kebutuhan masyarakat sangat tinggi.

“Orang KLU akan banyak datang nyari ke sini (Mataram). Stok barang harus dipastikan,’’ katanya.

Pengaruh kenaikan angka kemiskian akibat bencana alam selama sebulan diakui oleh Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh. Ia menegaskan, Mataram sebagai kota jasa dan perdagangan akibat peristiwa itu akan menambah pengangguran dan kemiskinan.

“Ini yang coba akan kita lakukan kajian,” kata Walikota ditemui, Jumat, 31 Agustus 2018.

Pada lima tahun terakhir bahwa progres penduduk miskin Kota Mataram menurun. Di tahun 2011 jumlah penduduk miskin 53.736 jiwa atau 13,81 persen. Mengalami penurunan di 2012 menjadi 11,87 persen atau 49.633 jiwa.

Baca juga:  Aplikator Kabur Bawa Uang Pembangunan Rumah Korban Gempa

Selanjutnya, di 2013 berkurang jadi 46.674 jiwa atau 10,75 persen. Tahun 2014 sebanyak 46.673 jiwa atau 10,53 persen. Pada posisi 2015, penduduk miskin di Mataram 46.670 jiwa atau 10,45 persen. Tahun 2016, penduduk miskin 9,80 persen atau 44.810 jiwa. Sementara tahun 2017, penduduk miskin Kota Mataram 9,55 persen.

Ahyar Abduh tengah mencarikan cara agar aktivitas ekonomi kembali normal. Pertama, harus bisa meyakinkan kepada masyarakat dan wisatawan bahwa aktivitas ekonomi dan pariwisata kembali pulih. Kedua, masa transisi ini, pemerintah ingin mengembalikan situasi supaya masyarakat dan warga luar tidak ada masalah lagi saat berkunjung ke Mataram dan Pulau Lombok umumnya. (cem)