Pembangunan Jalan Pinggir Pantai di Mataram Masih Wacana

0
11

Mataram (Suara NTB) – Wacana Pemkot Mataram membangun jalan di sepanjang sembilan kilometer pantai Ampenan sejak 2015, tak kunjung terealisasi. Rencana itu kini hilang begitu saja. Padahal, analisis dampak lingkungan (Amdal) telah rampung dikerjakan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Ir. H. Mahmuddin Tura menjelaskan, penanganan gelombang pasang sepanjang sembilan kilometer pantai Ampenan, tidak bisa menggunakan konstruksi tanggul seperti itu. Apalagi kawasan Pantai Ampenan gelombangnya begitu besar.

Pihaknya berdiskusi dengan Balai Jalan Nasional dan Pemprov NTB. Idealnya membangun jalan di pinggir pantai. “Di samping menghubungan akses BIL ke Senggigi juga fungsinya menahan gelombang,” kata Mahmuddin, pekan kemarin.

Baca juga:  Pulihkan NTB Pascagempa, Butuh Rp10,19 Triliun

Sehingga rencana pembangunan jalan pinggir pantai sudah dirancang sejak 2015. Analisis dampak lingkungan (amdal) kata dia, sudah dibuat dan diserahkan ke BJN. Dan, ini termasuk program prioritas. Cuma persoalannya Pemkot Mataram tidak mungkin membangun karena anggaran cukup besar. “Kalau kita (Pemkot,red) tidak mungkin karena anggarannya cukup besar,” ujarnya.

Gelombang pasang terjadi tiap tahun diakui jadi ancaman bagi masyarakat. Pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS). BWS sambungnya, memiliki program membangun pemecah gelombang. Ini diprogramkan Kampung Bugis sampai Kali Jangkuk panjangnya 1,3 km.

Baca juga:  Kekurangan Spek Pengaruhi Ketahanan Gedung Terhadap Gempa

Dia memaklumi rencana belum bisa terealisasi karena persoalan anggaran minim dari Pemerintah Pusat. “Ini sama dengan program waduk di Babakan itu,” sebutnya. Secara psikologi, Mahmuddin mengetahui masyarakat terutama di pinggir pantai merasa was – was saat gelombang pasang seperti saat ini.

Dia bersyukur secara bertahap pemerintah telah merelokasi warga ke perumahan nelayan di Karang Panas Kelurahan Tanjung Karang Permai. Rencananya, warga di Bintaro juga akan direlokasi ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) akan dibangun tahun ini. “Perkim mau bangun. Warga Bintaro akan direlokasi,” demikian kata dia. (cem)