Lapak Pedagang di Eks Pelabuhan Ampenan Masih Semrawut

Mataram (Suara NTB) – Pascapenataan lapak di eks Pelabuhan Ampenan, bukannya tambah memberikan kesan menarik, namun terkesan semrawut. Hal itu dipicu lapak pedagang yang tak tertata dengan baik.

Pemantauan Suara NTB, Jumat, 19 Januari 2018 menunjukkan, meja serta kursi milik pedagang berada di atas trotoar pinggir pantai. Bagian belakang lapak tak tertata. Terpal serta baliho menutupi lapak meninggalkan kesan kumuh. Sementara lapak yang telah rampung dikerjakan tak sepenuhnya menampung pedagang.

Camat Ampenan, Zarkasy tak menampik kondisi demikian. Masih semrawutannya di eks Pelabuhan Ampenan. Pertama, bangunan lapak baru rampung dan masih dalam proses mengembalikan pedagang ke tempat baru. Pengundian pembagian lapak saja dilakukan Rabu, 17 Januari 2018.

Akan tetapi, pedagang diberikan batas waktu sepekan sejak pengundian di samping menunggu pemasangan instalasi listrik dari Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman. “Kondisi ini memang karena belum semua pedagang kita pindah ke atas,” kata Zarkasy.

Kedua, dari seluruh pedagang ada sebagian yang tidak mendapatkan jatah lapak totalnya 26 orang. Padahal dari data awal sebanyak 42 pedagang, kemudian setelah didata ulang membengkak menjadi 68.

Pemkot Mataram tidak bisa mentorerir penambahan pedagang, karena pedagang lama saja bersyukur bisa terakomodir meskipun tidak sesuai dengan keinginan mereka. Karena dibuat pemerintah itu ukuran 2×2,5 meter.

“Jadi, dagangan mereka yang menyesuaikan, bukan kita yang menyesuaikan,” tambah dia.

Pemerintah memiliki niat yang bagus dengan menata lapak eks Pelabuhan Ampenan. Kedepan, ada rencana diseragamkan meja, etalase dan kursi. Secara keseluruhan perlengkapannya nanti disiapkan oleh pemerintah.

Terhadap nasib 26 pedagang yang tak terakomodir, Camat menambahkan, pihaknya tetap tidak bisa mentoleril mereka. Kesemrawutan pedagang di eks Pelabuhan Ampenan sangat berat dan jadi beban tanggungjawab kecamatan dan Baloq Tuan selaku pengelola.

Zarkasy memiliki keyakninan dengan terus melakukan pemantauan dan pendekatan persuasif dengan masyarakat akan ada perubahan. Kebijakan dilakukan pemerintah demi kepentingan mereka.

“Kalau masih seperti ini masih ada kecemburuan.  Justru ingin dijaga harmonisasi mereka. Kalau ada pedagang di dalam dan luar. Benturan itu bukan dengan kami dan pedagang. Tapi pedagang dengan pedagang,” paparnya.

Secara perlahan dengan menggunakan pendekatan humanis serta memberikan pemahaman diyakini bisa dilakukan. Bahkan, pengelola dibantu relawan akan membantu pedagang menaikkan meja mereka jika dirasa mereka tidak mampu memindahkan barang – barang miliknya. (cem)