Pemkot Mataram Tangkap Jukir Liar

Mataram (Suara NTB) – Delapan juru parkir (jukir) liar di Kota Mataram ditangkap, Kamis, 7 Desember 2017. Tim terpadu terdiri aparat kepolisian, Satpol PP dan Dishub sempat kejar – kejaran dengan jukir di kawasan pertokoan Kota Tua Ampenan. Jukir tersebut berhasil kabur mengendarai sepeda motor.

Selain menangkap jukir liar di sana, kawasan yang kerap dijadikan titik parkir liar di Jalan Sriwijaya, Langko, Saleh Sungkar, Yos Sudarso dan Panji Tilar. Dari titik tersebut, diamankan lima jukir liar. Delapan jukir ditangkap itu yakni, AL, CH, FA, HI, MI, CA, HD dan SJ. Sebagian dari mereka adalah jukir pembantu dan jukir utama. Tetapi, tidak pernah menyetor retribusi jukir ke pemerintah

Hariadi memarkir di depan Kantor PLN Ampenan mengaku sudah tiga bulan bekerja. Penghasilan didapatkan tidak pernah disetor ke kas daerah. ‘’Sudah tiga bulan pak,” kata Hariadi saat dimintai keterangan oleh petugas Dishub.

Berbeda halnya dengan Hariadi. Chaerul Anwar, warga asal Kuranji Lombok Barat mengaku sering menyetor pendapatnya ke oknum petugas Dishub. Pria berambut gondrong dengan status jukir pembantu itu menyebut nama dua orang oknum petugas Dishub sering mengambil setoran. “Saya sering ke sini (Kantor Dishub,red). Setorannya saya kasi Pak Abu dan Yogi,” sebut dia.

Kepala Bidang Operasi dan Pengendalian Dinas Perhubungan Kota Mataram, Mahfuddin Noer menjelaskan, delapan jukir ilegal ditertibkan ada yang mengaku berstatus jukir pembantu dan utama. Tetapi berdasarkan ketentuan, baik jukir pembantu dan utama wajib teregistrasi.

Data penerimaan retribusi parkir, mereka tidak pernah menyetor pendapatan parkir ke kas daerah. Padahal, ketentuan di Perda Nomor Tahun 2015 penarikan retribusi parkir setiap hari atau perminggu. “Setorannya mereka abal – abal,” kata Mahfuddin, Kamis, 7 Desember 2017.

Delapan jukir ditangkap di Pasar Kebon Roek, Jalan Saleh Sungkar, Panjir Tilar, Yos Sudarso dan Sriwijaya. Kata dia, penertiban akan dilakukan terus menerus. Sejak Agustus lalu, jukir diimbau melengkapi uniform mereka serta menggunakan karcis.

Jukir ilegal tertangkap nantinya dibuatkan surat pernyataan sebagai pembinaan terakhir. Jika ditemukan pelanggaran sama, Dishub akan menindak dan memproses secara hukum. “Sanksinya dipenjara atau denda,” sebutnya.

Di satu sisi, potensi parkir tepi jalan umum Rp 5 miliar. Sedangkan, realisasi telah diperoleh sejak Januari hingga awal Desember Rp 1,8 miliar. Tertangkapnya jukir ilegal tersebut dijadikan bahan evaluasi. Dishub akan memperkuat tim untuk memaksimalkan fungsinya berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2015.

Drs. H. Khalid selaku Kadishub Kota Mataram menambahkan, penindakan jukir ilegal sudah saatnya dilakukan. Selama setahun, petugas mengingatkan sekaligus membina jukir agar mentaati aturan. Akan tetapi, masih saja bandel dengan tidak menggunakan rompi, kartu identitas bahkan tidak menyetor ke kas daerah. Pihaknya sudah menyiapkan sanksi bagi jukir liar. Bekerjasama dengan Polres Mataram akan menjatuhkan sanksi pidana kurungan selama tiga bulan atau denda. (cem)