Belum Bayar Administrasi, RSUD Mataram Diduga Tahan Jenazah Bayi

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Keluarga Musalamah, pasien nifas asal Desa Kekait Lombok Barat yang dirawat di Ruang Intermediate RSUD Kota Mataram tak mampu membendung kekecewaannya. Jenazah bayinya yang meninggal dunia usai persalinan diduga tidak diperbolehkan pulang (ditahan, red) pihak rumah sakit sebelum melunasi biaya administrasi.

Bayi itu dinyatakan meninggal oleh tim medis sekitar pukul 03.00 dini hari. Saat proses melahirkan, Musalamah belum terdaftar menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Nasional (BPJS) Kesehatan. Belum terdaftar sebagai anggota, sehingga pihak rumah sakit membebani biaya persalinan dan rawat inap sebesar Rp 8 juta.

Suaminya yang hanya sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Desa Kekait tak mampu membayar biaya persalinan tersebut. Pihak rumah sakit pun mengancam akan menahan jenazah bayinya sebelum melunasi seluruh biaya.

“Kita ditakuti – takuti sama perawatnya mau nahan jenazah bayi kalau ndak bayar Rp 8 juta,” jawab Kadus Kekait, Nabil, Senin (7/8).

Semestinya segala hal yang sifatnya administrasi bisa diselesaikan belakangan tanpa mengorbankan jenazah dengan cara ditahan. Pihak keluarga kata Nabil, menunggu jenazah bayi ini harus cepat dikuburkan. “Keluarganya di rumah kasian nunggu,” jawabnya.

Musalamah, sambungnya, memang belum memiliki kartu BPJS. Sehingga, pihak keluarga mengurus dengan harapan persoalan tersebut selesai. Perawat di RSUD justru marah – marah dan menakuti pihak keluarga dengan disuruh membayar Rp 8 juta. Keluarga pasien tidak memiliki uang begitu banyak.

Nabil menyesalkan tindakan rumah sakit justru mengedepankan kepentingan bisnisnya, dari pada kepentingan masyarakat. Apalagi sampai tega menahan jenazah bayi karena alasan belum melunasi biaya rumah sakit.

“Seharusnya masyarakat miskin dilayani dengan baik. Jangan cuma orang kaya dan pejabat saja diperlakukan dengan baik,” kritiknya.

Sementara itu, pihak RSUD Kota Mataram membantah adanya penahanan terhadap jenazah bayi. Ia mengaku hanya ada miskomunikasi dengan keluarga yang diminta mengurus administrasi ke rumah sakit.

“Ndak ada niat kita nahan pasien. Apalagi ini jenazah. Cuma diminta nunggu diantar pakai ambulance, tapi keluarga pasien bawa pakai mobil sendiri,” kata Staf Humas RSUD Kota Mataram, L. Priagus S.

Dari catatan administrasi pihak rumah sakit. Musalamah merupakan pasien rujukan dari Lombok Barat. Ia termasuk Binsos Lombok Barat yang ditanggung biaya perawatan senilai Rp 3 juta.

Artinya, secara administrasi tidak ada masalah. Pihak keluarga juga telah mengurus BPJS Kesehatan, sehingga jenazah maupun pasien sudah diperbolehkan pulang. “Pasien sudah diperbolehkan pulang kok. Administrasi bisa diselesaikan belakangan,” tuturnya. (cem)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.