Bertahun-tahun, Keramba Jaring Apung Bantuan Pemerintah Ini Mangkrak

Mataram (Suara NTB) – Bertahun-tahun, keramba jaring apung yang berada di pesisir Pantai Penghulu Agung, Kelurahan Ampenan Selatan masih mangkrak dan tak lagi dimanfaatkan para nelayan. Alat ini merupakan bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa tahun lalu.

Dikonfirmasi perihal mangkraknya keramba jaring apung ini, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram, Hj. Baiq Sujihartini, SE.,MM menyampaikan dulu alat tersebut pernah dipakai nelayan. Namun tak beberapa lama terhenti.

Pasalnya menurut Sujihartini, modal yang harus dikeluarkan nelayan cukup besar dengan hasil yang didapatkan dari keramba jaringa apung tersebut. Sehingga para nelayan yang sebelumnya menjadi sasaran penerima bantuan tersebut enggan menggunakannya.

Beberapa tahun lalu saat DKP masih bergabung dengan Dinas Pertanian, alat tersebut diarahkan sebagai tempat pembesaran atau budidaya ikan seperti kerapu, bawal, dan lainnya. Saat itu nelayan diarahkan tak menjual ikan hasil tangkapan yang ukurannya kecil tapi dibudidayakan melalui keramba jaring apung, tapi juga tak berjalan.

Baca juga:  Kecil Peluang Jembatan Nasional Tampes Dituntaskan 2020

Menurut Sujihartini, tak dimanfaatkannya keramba jaring apung untuk pembesaran ikan karena selama ini produksi ikan para nelayan di Mataram hanya jenis tongkol.

“Karena memang kita produknya tongkol saja di sini, tidak bisa yang lain. Jadi hasil dengan biaya yang dikeluarkan itu tidak memadai,” ujarnya ditemui di Kantor DPRD Kota Mataram, Senin, 10 Juli 2017.

Karena perhitungan ekonomi yang menurutnya tidak menguntungkan nelayan, maka keramba jaring apung dibiarkan terbengkalai di tepi pantai. “Jadi sekarang dibiarkan dulu sambil kita mengkaji ulang nanti bisa dimanfaatkan untuk apa. Sementara (dibiarkan mangkrak),” jelasnya.

Baca juga:  Polisi Usut Rehab Gedung UPTD Dinas P2KB Kota Mataram

Keramba jaring apung yang diberikan KKP beberapa tahun lalu digunakan nelayan untuk budidaya lobster. Nelayan berhenti menggunakan lobster karena biayanya cukup mahal, tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan.

Budidaya lobster yang beberapa waktu lalu dikembangkan nelayan di Penghulu Agung mengalami kemandekan. Kemandekan ini disebabkan harga bibit lobster yang cukup mahal. Pasalnya nelayan tak mampu lagi membeli bibit lobster yang harganya naik dari Rp 12 ribu per ekor menjadi Rp 17 ribu pada saat itu.

Akhirnya dua keramba jaring apung yang cukup besar dengan 12 lubang itu sekarang hanya tergeletak di tepi pantai. (ynt)