Toko Buku Sejak Era Belanda Ini Masih Eksis

Mataram (suarantb.com) – Sebuah toko buku yang diketahui telah berdiri sejak era penjajahan Belanda masih eksis hingga saat ini. Toko buku yang berada di dalam perkampungan dan masuk gang ini berada di Ampenan, Kota Mataram.

Pengelola toko, Nanang mengatakan toko yang bernama Sapakira ini sudah ada sejak era penjajahan Belanda. Berdasarkan cerita dari orang tuanya, Ahmad Saleh pada mulanya yang dijual di toko ini hanya kitab klasik atau kitab kuning dan buku agama.

Dulu menurutnya pengunjung toko ini tak terlalu ramai jika dibandingkan belakangan ini. Nanang memperkirakan karena pada zaman dulu penduduk masih belum banyak serta pondok pesantren masih minim.

Terkait penamaan toko, ia tidak tahu alasan orang tuanya memberikan nama Toko Sapakira. Sepengetahuannya nama toko tak pernah diubah sejak masih diurus ayahnya sampai sekarang.

Sebelumnya toko ini berada di kompleks Pasar ACC. Sejak 20 tahun lalu, toko ini pindah ke Jalan Energi Gang Anggrek Nomor 4, Kelurahan Ampenan Selatan. Sempat berseteru dengan ayahnya karena dirasa lokasi tersebut kurang strategis. Tapi ada kalimat ayahnya yang membuat dirinya dan saudara-saudaranya menerimanya dan sekarang ia mensyukurinya.

“Semut saja ada di dalam tanah, ada di dalam batu, Allah kasih dia rezeki. Apalagi kita ini manusia, makhkuk paling mulia. Kalau kita minta insyaallah, Allah beri rezeki. Itu yang membuat kita kuat,” katanya menuturkan ucapan ayahnya.

Ia dan saudara-saudaranya mulai mengurus toko ini sejak dipindah, yakni sekitar 20 tahun yang lalu. Tidak ada perubahan yang terlalu berarti dengan jenis yang dijual, masih tetap menjul kitab klasik dan buku agama lainnya. Hanya ada beberapa jenis pakaian dan songkok serta kaos kaki yang menjadi tambahan.

Uniknya, kitab klasik melayu juga masih bisa didapatkan di toko ini seperti Sabilal Muhtadin, dan kitab melayu lainnya. Peminat kitab klasik berbahasa Melayu ini masih banyak.

Toko ini juga menjual kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Dalam ilmu gramatikal seperti Matan Jurumiyah, dalam bidang fikih seperti Matan Taqrib yang merupakan kitab wajib pondok pesantren dan masih banyak lagi jenis kitab yang lainnya.

“Kalau yang bagian fikihnya ada yang Matan Goyah atau Matan Taqrib disebut,” katanya.

Karena ayahnya dulu menjalin hubungan baik dengan pimpinan-pimpinan pondok atau para tuan guru, maka tokonya ini banyak dikenal dan sekarang semakin maju. Menurutnya, pemasaran yang bagus itu bukan dipromosikan olehnya, tapi dari pelanggan ke pelanggan.

“Dari mulut ke mulut paling jitu,” katanya.

Pemasaran dari mulut ke mulut ini masih ia terapkan dan belum ada niat untuk mencoba cara yang lebih modern seperti menyasar penjualan dengan sistem daring. Kini, Sapakira telah memiliki dua cabang, di Gunung Sari dan Kediri, Lombok Barat.

Nanang juga menceritakan kalau setiap tahun ajaran baru adalah masa-masa panen rezeki. Satu pondok pesantren bisa memesan 100-200 eksemplar untuk satu jenis kitab. Selain pada ajaran baru, bulan puasa juga ramai, ia bisa mendapatkan omzet mencapai Rp 10 juta per hari. Sedangkan hari-hari biasa hanya Rp 2 juta per hari.

“Pas kemarin bulan Ramadan ya lumayan bisa sampai Rp 10 juta per hari,” tuturnya. (mai)