DKP Panggil Ketua Kelompok Nelayan Soal Dugaan Maraknya Penggunaan Obat Keras

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram memanggil ketua kelompok nelayan di wilayah pesisir Ampenan untuk mengkonfirmasi dugaan maraknya nelayan yang mengonsumsi obat keras. Hal ini disampaikan Kepala DKP Kota Mataram, Hj. Baiq Sujihartini, SE., MM.

“Kemarin saya panggil langsung ketua kelompoknya,” ujarnya. Ia mengatakan berdasarkan informasi yang dihimpun pihaknya, hanya beberapa nelayan yang kerap mengonsumsi obat keras.

“Memang ada beberapa. Ndak banyak. Cuma kalau kita mau langsung tegur, enggak enak. Makanya kita harapkan dari BNN langsung saja ke sana supaya ada efek jeranya,” jelasnya ditemui di Kantor Walikota Mataram.

Sujihartini mengatakan ketua kelompok nelayan juga merasa berat langsung mengingatkan rekan nelayannya untuk menjauhi obat keras ini.  Terkait pemicu kenapa para nelayan ketergantungan obat keras ini, Sujihartini mengatakan pihaknya belum mengetahui pasti alasan para nelayan. Pasalnya menurut dia para nelayan yang diduga ketergantungan ini tidak mau terbuka.

Baca juga:  Hasil Jual Motor Curian Dipakai Beli Narkoba

“Tidak mau terbuka dan tidak mau ngomong kenapa sampai seperti ini,” ujarnya.

Untuk jenis obat yang kerap dikonsumsi nelayan ini, Sujihartini mengatakan juga tidak mengetahui jenis obat apa. Ia mengatakan jika nelayan tetap mengonsumsi obat keras ini, pihaknya akan mencabut bantuan kartu nelayan yang telah disalurkan beberapa waktu lalu.

“Rencana kita mau cabut kartu nelayannya. Kalau ternyata hasil BNN seperti itu. Saya belum berani pastikan, inginnya kita BNN lakukan tes. Kalau kenyataannya memang ada, kita cabut kartu nelayannya itu,” paparnya.

Pada April lalu, salah seorang nelayan dari Kelurahan Bintaro, Ampenan kepada Suara NTB mengungkapkan banyaknya nelayan di pesisir Ampenan yang diduga menggunakan narkoba. Banyaknya nelayan yang mengonsumsi narkoba telah menjadi rahasia umum di kalangan mereka. Kebanyakan pengguna ini berusia muda dan bekerja sebagai nelayan.

Baca juga:  6.000 Orang Terpapar Narkoba di Mataram

Perihal ini, Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana juga menyampaikan keprihatinannya. Pasalnya kondisi perekonomian masyarakat kawasan pesisir masih di bawah rata-rata atau termasuk warga  miskin. Kondisi tersebut diperburuk dengan kebiasaan mengonsumsi narkoba, yang tentunya dapat menguras penghasilan para nelayan yang tergolong rendah.

Jika nelayan yang berpenghasilan rendah terjebak sebagai pengguna narkoba, maka menurutnya mereka tak bisa diandalkan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

“Bagaimana mereka bisa memberikan harapan kesejahteraan kepada keluarga mereka kalau mereka sendiri seperti itu,” lanjutnya. (ynt)