Operasional BRT Masih Tunggu Hasil Kajian

Mataram (suarantb.com) – Setelah tidak beroperasi dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah Kota Mataram bersama Pemprov NTB akan segera mengoperasikan Bus Rapid Transit (BRT) dalam waktu dekat ini. Beberapa kajian sedang dilakukan oleh unsur-unsur terkait baik secara teknis maupun non teknis dalam mengoptimalkan operasional BRT ke depannya.

“Karena tujuan dari BRT ini sudah jelas, untuk mengurai kemacetan dan memenuhi kebutuhan pelajar. Di mana Kota Mataram salah satu dari kota-kota di Indonesia yang mendapat program untuk penyelenggaraan BRT ini,” kata Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram, Drs. Cukup Wibowo M.MPd kepada suarantb.com, Kamis, 30 Maret 2017.

Menurut Cukup, rapat yang seharusnya digelar, Rabu, 29 Maret 2017 untuk membahas hal yang terkait pengoperasionalan BRT, ditunda dan akan kembali digelar, Jum’at, 31 Maret 2017 besok.

Dalam rapat tersebut, akan dihadiri oleh seluruh pihak yang termasuk Dinas Perhubungan Provinsi, kabupaten/kota, unsur asosiasi sopir dan Organda.

“Dalam rapat tersebut baru akan diambil keputusan bersama. Sehingga baru bisa diputuskan semuanya setelah rapat,” ujarnya.
Cukup berharap, dengan kembali beroperasinya 25 unit BRT ke depannya, masyarakat dapat terbiasa menggunakan transportasi publik. Terlebih, sebagai kota yang punya banyak dinamika dan berkembang, ancaman kemacetan menjadi hal yang harus dicegah dari sekarang di Kota Mataram.

Namun, ia menyadari keberadaan angkot perlu diperhatikan. Sehingga, pihaknya tengah membuat kajian agar angkot dapat termanfaatkan sebagai pengumpan atau feeder.

“Jangan sampai ada BRT, angkot merasa dimatikan. Maka kami melakukan kajian untuk membuat angkot ini termanfaatkan feeder. Dengan angkot diposisikan jadi pengumpan, tidak ada lagi nanti ada alasan angkot tidak ada penumpang,” ungkapnya.
Konsepnya, angkot sebagai feeder ini akan menjemput para penumpang melalui rute-rute yang tidak dilalui BRT. Namun menurut Cukup, kajian ini memiliki konsekuensi yang tidak mudah.

Karena bergerak sebagai feeder, tentu membutuhkan kajian dan hitung-hitungan waktu agar feeder dapat menyesuaikan dengan jam-jam operasional BRT.

“Nanti feeder ini tidak bisa terlambat, inilah yang membutuhkan kajian dan hitung-hitungan waktu. Sopir feeder ini harus paham betul, bagaimana agar pertemuan feeder dan bus ini harus pas, tepat waktu,” imbuhnya.

Pemkot Mataram sendiri melalui Dishub sudah mengalokasikan anggaran Rp 1 miliar untuk mendukung operasional BRT. Saat ini, tim pengkaji juga tengah mengumpulkan data-data terkait pelajar di Kota Mataram yang menggunakan BRT.
“Dengan data tersebut, nantinya akan dipetakan dari mana saja pelajar itu berasal, nanti baru muncul pemetaannya,” tandasnya. (hvy)