Sang Barawa Durgarusit, Ogoh-Ogoh Karya Warga Selagalas

Mataram (suarantb.com) – Menjulang setinggi enam meter dengan wajah menyeramkan lengkap dengan taring dan jari berkuku panjang. Inilah ogoh-ogoh yang dinamai Sang Barawa Durgarusit karya Kelompok Muda Mudi Widya Semara Bhakti Lingkungan Bhineka Kelurahan Selagalas.

Dengan hiasan dan ornamen pendukung lain menghiasi tubuh raksasanya, Sang Barawa Durgarusit akan mengikuti pawai ogoh-ogoh yang akan digelar tiga hari lagi. Hanya butuh beberapa sentuhan tambahan dan usungan yang tengah dalam proses pembuatan, lengkaplah semua persiapannya.

Ketua panitia pembuatan ogoh-ogoh ini, Sang Made Purwanadi Artha yang ditemui suarantb.com berkenan berbagi cerita tentang ogoh-ogohnya serta proses pembuatannya. Pengerjaan ogoh-ogoh ini  diakui Made membutuhkan waktu sekitar tiga bulan dan menghabiskan biaya sekitar Rp 7-8 juta.

Dana ini dijelaskannya diperoleh dari iuran sukarela warga setempat dan sumbangan dari sejumlah instansi yang berkantor di lingkungan ini, ditambah dengan kas dari kelompok muda-mudi. Sementara pengerjaannya dilakukan 15 orang pemuda dengan bantuan dari rekan yang ahli dalam membuat ogoh-ogoh.

Baca juga:  Mudik Lebaran, Basarnas Siagakan Personel

“Ada sekitar 15 orang yang aktif mengerjakan ini, walaupun jumlah anggota kita 50 orang lebih. Tapi karena kita bentuk kepanitiaan, jadinya ada yang di bagian pengerjaan ogoh-ogoh, ada yang mengurus konsumsi dan lain-lain,” jelasnya.

Saat ditemui hari ini, Jumat, 24 Maret 2017 Made mengaku ogoh-ogoh karya warga Lingkungan Bhineka Segalas ini sebelumnya dinamai Sang Kalikamaya, yang merupakan sosok penjaga kuburan Setra Gandamayu yang merupakan murid dari Dewi Durga. Namun, seiring proses pembuatannya nama tersebut diganti menjadi Sang Barawa Durgarusit.

“Sebenarnya maknanya sama saja, tapi nama yang awal itu lebih identik ogoh-ogoh bertangan empat. Karena jadinya yang sekarang dua tangannya, jadi diganti namanya setelah kita konsultasi dengan pedanda,”ujarnya.

Baca juga:  THR ASN Mulai Dicairkan

Selain ogoh-ogoh, Made menjelaskan kostum peserta pawai yang berjumlah ratusan orang juga telah siap. Tim pemusik atau beganjur yang terdiri dari 15 anak juga telah dilatih sejak jauh-jauh hari. Untuk pawai sendiri, diperkirakan akan ada 50 orang yang bertugas mengusung ogoh-ogoh seberat 150 kilogram ini.

“Kita ikut pawai yang di Cakra, rutenya dari depan Bundaran Karang Jangkong dan finish di Taman Mayura. Kalau ada lomba, nanti penilainnya di sana, di depan Kantor Camat Cakra Utara,” tambahnya.

Ditanya mengenai alasan mengapa ogoh-ogoh harus dibakar usai pawai, Made menjelaskan itu merupakan ritual untuk melenyapkan kekuatan jahat. “Selama pawai itu segala yang jahat keluar saat ogoh-ogoh diarak keliling, semua kejahatan diserap. Makanya dibakar, agar pas Nyepinya ndak diganggu oleh Bhuta Kala atau kekuatan jahat itu,” tandasnya. (ros)