Dinas Perdagangan akan Pantau Distribusi Cabai Impor India di Mataram

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan Kota Mataram akan segera turun memantau distribusi cabai impor di Kota Mataram. Cabai impor ini informasinya berasal dari India. Masuknya cabai impor ke pasar-pasar tradisional di Kota Mataram ini akan menjadi perhatian khusus Dinas Perdagangan. Demikian disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, S.Pi kepada Suara NTB, Senin, 27 Februari 2017.

“Kami segera turun lapangan,” ujar mantan Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokoler Setda Kota Mataram ini.

Pemerintah daerah disebutkan Alwan tak memiliki kewenangan melarang masuknya produk pertanian impor ke Kota Mataram. Namun hal ini akan tetap menjadi atensi pihaknya. Pihaknya akan melihat sejauh mana dampak peredaran cabai impor ini terhadap produk pertanian dari petani lokal. “Kami akan melihat dampaknya di pasar,” ujarnya.

Saat dihubungi Suara NTB, Alwan mengaku sedang berada di Bima mengikuti rapat koordinasi Dinas Perdagangan se-NTB. Persoalan cabai impor yang mulai masuk ke NTB juga menjadi pembahasan dalam rakor tersebut. “Ini juga jadi atensi kita di rakor ini. Setelah di Mataram akan saya lakukan pemantauan langsung di pasar,” jelasnya.

Baca juga:  Setelah Maulid, Disdag NTB Antisipasi Lonjakan Harga

Seperti diberitakan suarantb.com (Senin, 27 Februari 2017), cabai impor ditemukan di Pasar Kebon Roek, Ampenan. Menurut salah seorang pedagang di Pasar

Kebon Roek, Jum, cabai rawit kering impor diambil dari pengepul di Pasar Mandalika.

“Harga cabai kering impor saya jual Rp 80 ribu, saya ambil di Bertais (Pasar Mandalika) sekilo Rp 60 ribu,” ujar Jum kepada suarantb.com, Senin, 27 Februari 2017.

Menurut salah seorang pedagang di Pasar Mandalika, Rintis, cabai kering impor yang dijual langsung didatangkan dari Jawa. Ia mengaku menjual cabai kering impor karena harga cabai lokal yang masih melambung.

Baca juga:  Harga Naik, Stok Daging dan Ayam Surplus

Cabai kering impor sendiri dijual dengan harga Rp 60 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram. Harga tersebut jauh lebih murah dibanding cabai rawit lokal yang terpantau masih berada di kisaran Rp 140 ribu – Rp 160 ribu per kilogram.

Di tempat lain, Surayah juga mengaku telah menjual cabai impor sejak harga cabai lokal melonjak. “Sudah hampir satu bulanan saya jual cabai impor,” ujarnya. Ia mengaku banyak pembeli lebih tertarik dengan cabai impor dari India karena selain lebih murah, rasa pedasnya juga hampir menyamai cabai lokal.

Para pedagang mengaku kesulitan jika tidak ada cabai impor. Cuaca buruk dan musim hujan beberapa waktu lalu menyebabkan banyak petani cabai di NTB gagal panen. Hal tersebut membuat harga cabai melambung dalam dua bulan terakhir ini. (ynt/hvy)